Permintaan Masih Tinggi, Indonesia Diramal Tetap Jadi Eksportir Batu Bara Terbesar
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia diyakini masih akan menjadi negara eksportir batu bara terbesar di dunia pada tahun 2024 ini. Hal ini tak lepas dari masih tingginya permintaan batu bara dari negara-negara importir.
“Selama permintaan itu masih tinggi ya memang batu bara Indonesia akan meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan impor tadi. Ada beberapa negara yang permintaannya akan tinggi,” kata Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, saat dihubungi Investortrust, Kamis (6/6/2024).
Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dunia. Pada 2023, Indonesia mengekspor batu bara sebayak 406,67 juta metrik ton (MT), mengungguli Australia sebanyak 364,05 juta MT, Rusia 220,09 juta MT, Amerika Serikat 77,98 juta MT, Afrika Selatan 75,39 juta MT, dan Kolombia 56,55 juta MT.
Fahmy menyebutkan bahwa sejumlah negara sejatinya masih menanti-nanti pasokan batu bara dari Indonesia. Di antaranya adalah China dan India yang masih membutuhkan batu bara untuk pembangkit listrik mereka.
Baca Juga
Ekspor Batu Bara Meningkat, Bukit Asam (PTBA) Soroti 5 Negara Ini
“Pertama China, meskipun mereka produsen batu bara tetapi mereka juga konsumen batu bara yang cukup besar. Dan yang kedua India,” ujar Fahmy Radhi.
Fahmy juga menerangkan bahwa sebelum ini negara-negara di Eropa Barat juga banyak mengimpor batu bara dari Indonesia. Namun, permintaan mereka kini mulai menurun lantaran sudah mendapat pasokan gas dari Rusia untuk pembangkit listriknya.
“Sementara untuk negara-negara Eropa Barat itu permintaannya menurun karena mereka sudah dapat gas dari Rusia untuk pembangkitnya tadi,” terang dia.
Baca Juga
ESDM Tak Tutup Kemungkinan Ada Tambahan Permohonan Kerja RKAB Batu Bara
Kendati demikian, Fahmy menilai ada kecenderungan permintaan naik. Meski permintaan dari negara-negara Eropa Barat mengalami penurunan, namun masih banyak negara lain yang membutuhkan batu bara Indonesia.
“Negara importir itu mereka butuh batu bara untuk pembangkit listriknya. Meskipun termasuk emisi kotor, tetapi beberapa negara itu masih menggunakan batu bara untuk pembangkit listriknya,” jelas Fahmy Radhi.
Pada tahun 2024, Kementerian ESDM mematok target produksi batu bara sebesar 710 juta ton. Dari jumlah itu, alokasi kewajiban pemenuhan batu bara dalam negeri atau domestik market obligation (DMO) mencapai 181,28 juta ton.

