Pasar Batu Bara "Menghangat" Sinyal Pemulihan Permintaan, Apa yang Dibaca Produsen?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Seperti bara yang disiram angin malam, harga batu bara kembali berkobar di akhir September 2025. Setelah berbulan-bulan meredup, pasar memberi sinyal kebangkitan. Pergerakan harga ini menjadi cermin bahwa emas hitam itu masih memegang peran penting dalam denyut energi global, meski dunia terus melaju menuju transisi energi bersih.
Dikutip Investing, Senin (29/9/2025), harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2025 tercatat turun tipis US$ 0,1 menjadi US$ 103,75 per ton. Namun, harga kontrak Oktober menguat US$ 1,35 menjadi US$ 106,4 per ton, disusul kontrak November yang naik US$ 1,55 ke posisi US$ 108,75 per ton.
Baca Juga
Meski Harga Batu Bara Fluktuatif, PTBA Pertahankan Target Volume Produksi Tahun Ini
Sementara itu dalam 1 pekan terakhir harga batu bara Newcastle naik 0,39%. Sayangnya, dalam 1 bulan ini harga batu bara masih terpangkas 6,9%, dan dalam 3 bulan belakangan turun 2,58%. Jika ditarik 6 bulan terakhir, harga batu bara naik 7,46% dan dalam setahun terakhir tergerus 25,7%.
Sedangkan harga batu bara acuan (HBA) terbaru yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untukk periode kedua Agustsu 2025 adalah HBA batu bara kalori tinggi (6.322 GAR) mencapai US$ 100,69 per ton, dan turun menjadi US$ 67,20 per ton untuk HBA I (5.300 GAR), US$ 43,70 per ton untuk HBA II (4.100 GAR), dan US$ 33,48 per ton untuk HBA III (3.400 GAR)
Dalam catatan Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), harga batu bara sempat anjlok di bawah US$ 100 per ton pada 2025. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata harga pada 2024 yang bisa mencapai US$ 130 per ton
Adapun penguatan harga batu bara seminggu terakhir muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda pensiun sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu bara.
Baca Juga
Target Pemanfaatan Hilirisasi Batu Bara DME Dimulai 2030, LPG Turun Drastis hingga 2060
Pemerintah AS melakukan pembicaraan dengan banyak perusahaan utilitas dan memperkirakan sebagian besar dari beberapa lusin pembangkit listrik batu bara yang mendekati masa pensiun tetap beroperasi.
“Saya akan katakan mayoritas kapasitas batu bara itu akan tetap online,” kata Menteri Energi AS Chris Wright, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/9/2025).
Langkah ini didorong lonjakan permintaan listrik untuk menopang pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang menyedot konsumsi energi dalam jumlah besar.
Kondisi di dalam negeri
Di Indonesia, APBI melaporkan ekspor batu bara hingga Agustus 2025 mencapai 328,92 juta ton, masih 9,6% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, menurut Plt Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani, kenaikan ekspor di Juli dan Agustus memberi sinyal perbaikan permintaan.
“Tren ini memberi sinyal positif bahwa pemulihan permintaan ekspor sedang berlangsung,” kata Gita saat dihubungi Investortrust.
APBI memproyeksikan permintaan batu bara akan menguat hingga akhir 2025, didorong kebutuhan pembangkit listrik di Asia dan Eropa saat memasuki musim dingin. Situasi ini menjadi peluang bagi produsen batu bara Indonesia untuk memaksimalkan penjualan, meski harga rata-rata tahun ini masih lebih rendah dibanding 2024.
Ketua Umum APBI Priyadi sebelumnya menegaskan bahwa meski pasar batu bara tengah tertekan, tantangan terbesar industri saat ini bukan hanya soal harga global, melainkan ketidakpastian regulasi.
Baca Juga
2025 Tahun Penentuan Ekspor Batu Bara, ASEAN Jadi 'Game Changer'?
“Pasar global tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat efisiensi operasi. Namun bila aturan terus berubah mendadak, ini justru menciptakan ketidakpastian,” ujar dia dalam Energy Insights Forum bertajuk “Redefining Coal’s Contribution: Sustaining Revenues, Navigating Challenges” belum lama ini.
Menurutnya, konsistensi kebijakan menjadi kunci menjaga daya saing nasional. Ia menambahkan, Indonesia masih memiliki cadangan batu bara besar, yang dapat menjadi penopang energi sekaligus peluang peningkatan nilai tambah bila didukung regulasi yang stabil.
APBI memproyeksi produksi batu bara Indonesia turun ke level 740 juta ton pada 2025. Angka ini turun 11,5% dibandingkan produksi 2024 yang sebesar 836 juta ton. Penurunan produksi tak lepas dari kondisi pasar global yang tak menentu. Ketidakpastian pasar itu pun belakangan membuat harga emas hitam turun.
"Jika kita melihat proyeksi produksi batu bara year-to-date, saya kira akan berkurang 90 juta hingga 100 juta ton sehingga akan menjadi sekitar 740 juta ton tahun ini. Jadi ini cukup signifikan," kata Sekretaris Jenderal APBI Haryanto dalam forum CT Asia 2025 di Jimbaran, Bali, Senin (22/9/2025).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara Indonesia baru mencapai 509 juta ton per September 2025. Realisasi tersebut setara 68% dari target produksi batu bara nasional 2025 sebesar 739 juta ton.
Baca Juga
Meski Harga Batu Bara Fluktuatif, PTBA Pertahankan Target Volume Produksi Tahun Ini
Dari sisi produksi, Indonesia rata-rata menghasilkan sekitar 700 juta ton batu bara per tahun. Dengan cadangan yang ada, umur batu bara nasional diperkirakan masih sekitar 45 tahun, bahkan bisa mencapai 185 tahun jika seluruh resources dapat dikonversi menjadi reserves.
Adapun cadangan batu bara Indonesia per akhir 2024 tercatat sebanyak 31,96 miliar ton, dengan cadangan terkira sebesar 14,42 miliar ton dan cadangan terbukti 17,54 miliar ton. Data ini berasal dari Kementerian ESDM, yang mengkompilasi informasi dari ribuan lokasi tambang di 23 provinsi. Mayoritas cadangan batu bara Indonesia adalah kalori rendah, yaitu 24,05 miliar ton.
Tantangan bagi produsen
Dengan rata-rata harga di kisaran US$ 100 per ton, margin produsen batu bara Indonesia masih relatif aman. Namun, jika harga jatuh di bawah US$ 80 per ton, produsen berpotensi mencatatkan kerugian karena biaya produksi ideal berada di kisaran US$ 45–US$ 50 per ton.
Director/Chief Financial Officer PT Bumi Resources Tbk (BUMI), Andrew Beckham dalam sebuah webinar mengatakan, BUMI memperkirakan biaya produksi batu bara pada 2025 sekitar US$ 44-US$ 46 per ton pada 2025, di luar biaya royalti dan komisi.
Untuk Kaltim Prima Coal (KPC), biaya produksi batu bara di tambang tersebut diperkirakan sekitar US$ 48-US$ 50 per ton. Adapun biaya produksi batu bara di Arutmin diproyeksikan sekitar US$ 35-US$ 37 per ton.
Baca Juga
KAI Angkut Batu Bara 37,47 Juta Ton dalam 8 Bulan Pertama di 2025
Biaya produksi tambang batu bara bertambah sekitar US$ 2 per ton akibat penggunaan biodiesel B40, meski dampaknya bervariasi di setiap perusahaan tambang.
"Kami pada 2025 cukup mendapatkan tambahan biaya tinggi dari harga B40. Harga B40 itu sendiri, setelah subsidinya hilang, naiknya cukup signifikan. Belum lagi ada ongkos angkut,” ujar Gita Mahyarani dalam sebuah focus group discussion (FGD) batu bara yang digelar Investortrust Juni 2025 lalu.
Sementara itu di tengah tren melandainya batu bara dibanding tahun lalu, perusahaan batu bara milik negara dan sejumlah produsen swasta besar kini berfokus pada efisiensi biaya, optimalisasi rantai pasok, dan diversifikasi pasar untuk menjaga arus kas positif. Selain itu, sebagian produsen mulai menyiapkan investasi hilirisasi, seperti gasifikasi dan produksi metanol, yang menjadi strategi jangka panjang menghadapi ketidakpastian harga komoditas.
Dampak lebih luas
Kenaikan harga di kuartal terakhir 2025 juga berpotensi menambah penerimaan negara dari royalti dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor batu bara. Bagi pemerintah daerah penghasil, momentum ini bisa mendongkrak dana bagi hasil dan mendukung APBD di tahun depan. Namun, volatilitas harga tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi agar industri tidak terlalu bergantung pada ekspor semata.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno pernah menuturkan, batu bara secara nasional telah menjadi penggerak ekonomi, terutama melalui kontribusinya terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencapai 70%.
Baca Juga
Waketum Kadin Nilai Batu Bara Masih Penting untuk Jaga Ketahanan Energi
Dia mencatat, PNBP dari sub-sektor minerba pada 2024 sebesar Rp 143 triliun. Adapun, untuk 2025, pemerintah menargetkan setoran PNBP dari sektor minerba mencapai Rp 123 triliun. Tri mengklaim, jika ditotal, sumbangan industri batu bara terhadap negara melalui PNBP dan pajak dapat mencapai Rp 250 triliun. "Dibanding industri lain. Ini cukup tinggi peran industri batu bara ini )penerimaan negara) plus pajak dan lain-lain mungkin sekitar di atas Rp 250 triliun," ucap Tri dalam sebuah kesempatan.
Bagi investor, situasi naiknya batu bara akhir-akhir ini menghadirkan dua sisi mata uang, yakni potensi keuntungan jangka pendek dari harga yang menguat dan kebutuhan untuk menilai risiko jika harga kembali turun.
Pada akhirnya, industri batu bara Indonesia ibarat kapal besar yang harus terus mengarungi lautan global yang penuh gelombang. Selama nakhoda mampu mengatur arah, menjaga keseimbangan biaya, dan membaca arah angin permintaan, kapal itu akan tetap berlayar dengan selamat menuju pelabuhan.

