Ekspansi, Indeks Kepercayaan Industri RI Capai 52,50
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Mei 2024 ekspansi di angka 52,50. Capaian tersebut datang dari kinerja 23 subsektor, yang mana 22 subsektor di antaranya menunjukkan kinerja yang bagus.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif pun mengatakan bahwa kontribusi 22 subsektor yang mengalami ekspansi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah sebesar 95,8%.
"Ini artinya semua subsektor industri pengolahan nonmigas ini sedang ekspansi atau sedang giat-giatnya," ucap Febri saat konferensi pers di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (30/5/2024).
IKI pada Mei 2024 yang mencapai 52,50 ini meningkat 0,20 poin jika dibandingkan dengan April 2024, yakni sebesar 52,30. Selain itu, meningkat sebesar 1,60 poin apabila dibandingkan dengan Mei 2023 yang mana nilai IKI mencapai 50,90.
Baca Juga
Kunjungi Pabrik, Gobel: Industri Tepung Singkong Juga Bisa Hasilkan Devisa
Dijelaskan juga, 3 komponen yang mempengaruhi IKI yakni pesanan baru, produksi dan stok. Dari 3 komponen itu, peningkatan nilai IKI dari variabel pesanan baru yaitu sebesar 1,23 poin sehingga nilai IKI pesanan baru mengalami peningkatan menjadi 53,16.
"Nilai IKI variabel persediaan produk juga mengalami peningkatan sebesar 0,57 poin menjadi 54,59. Berbeda dengan nilai IKI variabel lainnya, variabel produksi justru mengalami penurunan ekspansi sebesar 1,75 poin menjadi 50,01," terangnya.
Diketahui, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan hanya industri pengolahan tembakau mengalami kontraksi di antara subsektor industri pengolahan nonmigas pada Mei 2024. Kontraksinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah sebesar 4,2%.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan salah satu penyebab penurunan kinerja industri pengolahan tembakau tersebut dikarenakan maraknya rokok ilegal yang beredar, terutama rokok dari luar negeri.
"Kami mendapat informasi bahwa industri pengolahan tembakau mengurangi tembakaunya karena banyaknya rokok ilegal yang beredar di pasar terutama rokok ilegal yang dari luar Indonesia," terang Febri.

