Meski Starlink Cs Bisa Terkoneksi Langsung ke Ponsel, Menara Telekomunikasi Disebut Tak Tergantikan
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan menara telekomunikasi tetap yaki bahwa satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO), seperti Starlink, belum bisa menggantikan peran menara telekomunikasi di Tanah Air, termasuk jaringan kabel serat optik.
Meski demikian satelit LEO dapat dimanfaatkan oleh operator seluler untuk mengembangkan jaringan tanpa menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS). Satelit-satelit yang mengorbit di ketinggian 500-1.200 km di atas permukaan bumi bakal menjadi pengganti dari menara BTS di banyak titik.
Starlink diketahui sudah membuka peluang kolaborasinya dengan operator seluler. Perusahaan milik Elon Musk itu sudah memperkenalkan layanan Direct To Cell yang memungkinkan pengguna ponsel mengakses jaringan long-term evolution (LTE) langsung dari satelit mereka.
Baca Juga
Corporate Secretary PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Helmy Yusman Santoso menilai masih terlalu dini untuk bicara tentang masa depan bisnis menara telekomunikasi di Indonesia setelah Starlink masuk. Sebab, hingga kini, layanan telekomunikasi berbasis satelit masih menjadi pelengkap.
"Ini sebenarnya adalah komplementer. Mengapa? Karena di Indonesia masih ada daerah-daerah yang belum terjangkau akses internet. Dengan Starlink, masyarakat Indonesia bisa mendapatkan akses internet," katanya ketika ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tower Bersama Infrastructure 2024 di The Westin Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (30/5/2024).
Kemudian dari sisi biaya, Helmy menyebutkan, teknologi satelit masih terbilang mahal. Baik untuk pengembangan jaringan operator seluler maupun layanan internet ke pengguna akhir seperti yang dilakukan Starlink.
Baca Juga
Tower Bersama (TBIG) Putuskan Dividen Final Rp 683 Miliar hingga Buy Back Saham
"Dari segi biaya bisa di-compare (dibandingkan), harus beli perangkat dahulu dan biaya bulannya lebih mahal dari operator telekomunikasi lainnya, baik operator seluler maupun FTTH (fibre to the home/serat optik)," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) Adam Ghifari menyebutkan hadirnya teknologi baru, satelit LEO, merupakan keniscayaan. Namun, bukan berarti teknologi tersebut cocok untuk diimplementasikan di Indonesia.
"Saya melihat teknologi itu memang berubah, tetapi menara telekomunikasi itu yang sudah banyak dipakai atau diadopsi. Ketersediaannya juga tinggi dan melibatkan ekosistem yang luas dan lebih efisien," katanya ketika ditemui oleh Investortrust pada Rabu (30/5/2024) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Adam, teknologi satelit, khususnya satelit LEO bukanlah pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi di Indonesia. Teknologi tersebut menjadi pilihan akhir bagi masyarakat yang berada di wilayah terpencil, tidak terjangkau oleh layanan seluler maupun internet tetap (fixed broadband).
Baca Juga
Kehadiran Starlink Jadi Awal Senjakala Menara Telekomunikasi
Walaupun demikian, perusahaan menara telekomunikasi Grup Djarum itu tidak menutup mata dengan teknologi yang terus berkembang. Adam tak menampik bahwa masyarakat butuh koneksi internet cepat yang tidak bisa hanya mengandalkan layanan seluler.
Oleh karena itu, secara khusus Sarana Menara Nusantara mengaloasikan anggaran Rp 3 triliun sejak tahun lalu guna mengembangkan jaringan kabel serat optik. Karena bagaimanapun juga kabel serat optik memiliki kemampuan mentransmisikan data dengan jumlah yang besar dalam waktu singkat.
Adam menambahkan bahwa pengembangan jaringan kabel serat optik memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional. Sebab, pengembangan jaringan tersebut melibatkan peran banyak pihak di dalam negeri, termasuk masyarakat yang ikut terlibat dalam pengerjaan proyek di lapangan.
"Ekosistem existing atau baru, perlu dilihat apakah melibatkan rantai ekonomi di Indonesia. Kalau pengembangannya dilakukan di Tanah Air melibatkan rantai ekonomi yang luas dan panjang, belum lagi soal kedaulatan juga kalau dibandingkan dengan satelit," tuturnya.

