Badan Geologi ESDM Sebut Baru 45% Potensi Endapan Mineral Indonesia yang Terdata
JAKARTA, Investortrust.id - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, baru 45% potensi endapan mineral di Indonesia yang terdata. Sementara sisanya yakni 55% belum tereksplorasi.
Kepala Bidang Mineral, Pusat Sumber Daya Mineral Batu Bara dan Panas Bumi, Badan Geologi Kementerian ESDM, Moehamad Awaludin menjelaskan, formasi batuan di Indonesia yang mengandung mineral diperkirakan mencapai 15.000 km.
"Mengacu pada peta metalurgi ini, formasi batuan yang mengandung mineral ada 15.000 km panjangnya. Yang ada datanya baru sekitar 45 persen, artinya ada 55 persen lokasi yg mengandung logam belum punya data, belum tereksplorasi. Ini menjadi tantangan karena minimal pemerintah punya data semuanya," ucapnya di sela acara Kolokium Badan Geologi di Hotel Jayakarta, Jakarta Pusat, Kamis (7/12/2023).
Menurutnya, pemerintah harus memiliki data seluruh potensi mineral di Indonesia sebagai bagian dari upaya transisi ke energi hijau. Apalagi banyak mineral kritis yang dimiliki Indonesia merupakan bahan baku baterai untuk menjalankan kendaraan listrik.
Baca Juga
Kementerian ESDM Paparkan Peluang Implementasi Energi Laut, Simak Rinciannya
Sebut saja nikel, kobalt, mangaan, litium hingga boron. Dia menjelaskan mineral-mineral itu sering ditemukan sebagai produk ikutan dalam proses hilirisasi suatu mineral.
"Sebagian mineral kritis didapat dari mineral ikutan. Hilirisasi di samping menaikkan nilai tambah produk pertmbangan, juga menghasilkan mineral ikutan yang kita gak pernah dapatkan kalau hanya ekspor material saja. Bicara ke depan hilirisasi harus lebih hilir, jangan hasilkan produk yang sifatnya intermediate," ucapnya.
Awaludin menegaskan pemerintah sebenarnya sudah berada di jalan yang benar untuk memanfaatkan mineral kritis karena semua produk mineral logam wajib dihilirisasi. Dia pun menekankan agar produk mineral bukan logam juga wajib dimurnikan agar menghasilkan produk sampingan berupa mineral kritis yang bermanfaat.
"Kami juga memperkuat koordinasi dengan Kementerian Perindustrian. Kami sampaikan data ada mineral ini dengan produk sampingan ini yang dibutuhkan industri," tuturnya. (CR-14)
Baca Juga
ESDM: Ada Investor Tertarik Kembangkan Energi Laut di Selat Larantuka

