AS Siapkan Layanan Seluler Berbasis Satelit, Bagaimana Respons Operator Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Perkembangan teknologi telekomunikasi seluler memasuki babak baru setelah operator seluler AT&T dan perusahaan satelit AST SpaceMobile mengumumkan kerja sama belum lama ini. Perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat (AS) itu berencana membangun jaringan seluler baru berbasis satelit sampai dengan 2030 mendatang.
Pembangunan jaringan tersebut memungkinkan konektivitas di wilayah-wilayah yang selama ini tidak terlayani oleh layanan seluler karena minimnya stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS). Istimewanya, jaringan yang dikembangkan oleh AT&T dan AST SpaceMobile ini dapat digunakan oleh ponsel pada umumnya, alih-alih ponsel khusus dari seluruh dunia.
Merespons hal tersebut, PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menyatakan implementasi teknologi baru untuk memperluas cakupan jaringan perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan membayar masyarakat Indonesia agar manfaatnya betul-betul optimal.
Senior Vice President (SVP) Head of Corporate Communications IOH Steve Saerang menilai teknologi terbaru yang sudah digunakan di negara lain belum tentu cocok diimplementasikan di Indonesia karena perbedaan kebutuhan. Selain itu, kemampuan membayar masyarakat di Tanah Air juga tidak setinggi di negara-negara maju, khususnya di wilayah terpencil.
Baca Juga
"Nah, sekarang kembali lagi, bahwa kami ingin mengimplementasikan teknologi yang tepat untuk kebutuhan masyarakat Indonesia yang juga butuh edukasi. Tentunya melihat juga apakah kebutuhan tersebut bisa diakomodasi dengan handset [perangkat] yang banyak digunakan saat ini," katanya ketika ditemui di Kantor Pusat IOH, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2024).
Lebih lanjut, Steve mengungkapkan, pihaknya didukung oleh departemen riset dan pengembangan untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh 100,7 juta pelanggan IOH di seluruh Indonesia. Selain itu, tugas lainnya dari departemen tersebut adalah mencoba berbagai teknologi baru untuk mendukung operasional dan layanan IOH sebelum diperkenalkan ke publik.
Harapannya, melalui departemen tersebut IOH bisa memberikan layanan yang sama kualitasnya di seluruh Indonesia. Tidak hanya unggul atau mengakomodasi masyarakat di perkotaan yang kemampuan bayarnya lebih tinggi dan punya perangkat termutakhir.
"Karena kita tidak bisa memaksakan handphone hi-end [kelas atas] dipakai oleh masyarakat di pelosok Indonesia Timur. Kita akan memerdekakan mereka dengan layanan yang tetap prima dengan kebutuhan dan handset yang sudah ada di pasar saat ini," ujarnya.
Baca Juga
Starlink Tak Dapat Keistimewaan, Bayar Puluhan Miliar untuk Izin Operasi di Indonesia
Sejalan dengan Steve, sebelumnya Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen SDPPI Kemenkominfo) Ismail menilai bahwa skenario terpenting untuk meningkatkan laju telekomunikasi adalah membangun infrastruktur sesuai kebutuhan. Bukan sekadar mengimplementasikan teknologi terbaru yang belum tentu dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
"Supaya tidak terombang-ambing, setiap perubahan teknologi kita hanya latah, ikut-ikutan, butuh ini, butuh itu, 5G, 6G, kapan,” kata Ismail dalam sebuah diskusi bersama awak media di Kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (17/5/2024).
Menurut Ismail, implementasi teknologi terbaru membutuhkan biaya tidak sedikit. Di sisi lain, pendapatan operator seluler tidak naik secara signifikan lantaran masyarakat tidak mampu membayar biaya layanan yang lebih mahal karena pemanfaatan teknologi tersebut.
“Karena kalau dinaikkan tarifnya, masyarakat akan merasa berat untuk membayar kuota per bulannya. Jadi kita harus menyesuaikan pembangunan infrastruktur itu sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.
Kemudian yang tak kalah penting, Indonesia bukanlah negara produsen, melainkan negara konsumen perangkat teknologi. Ismail tak menampik bahwa Indonesia sangat bergantung dengan negara produsen, sehingga perlu bijak untuk menentukan mana teknologi yang tepat.
“Jangan sampai kita menerapkan sebuah teknologi baru dengan biaya yang besar, devisa nasional, karena ini pasti belanjanya banyak barang impor, namun nilai manfaatnya buat masyarakat tidak secara nyata diperoleh,” tegasnya.
Butuh Waktu Hingga Empat Tahun
Sebelumnya, Direktur & Chief Technology Officer (CTO) PT XL Axiata Tbk (EXCL) I Gede Darmayusa, mengatakan, perluasan jaringan seluler, khususnya jaringan 5G hingga beberapa tahun ke depan masih akan mengandalkan stasiun pemancar, alih-alih satelit.
Gede menyebut kapasitas satelit masih belum bisa menyamai kapasitas jaringan seluler menggunakan BTS dan kabel serat optik. Kapasitas satelit untuk memenuhi kebutuhan jaringan internet saat ini tak lebih dari 20 MB (megabit).
"Untuk saat ini, tentunya kapasitas itu belum ada. Belum semua satelit [yang dibutuhkan] ada di atas. Entah berapa tahun lagi kita enggak tahu. Sampai pada saatnya nanti mereka bisa cover 1 site 1 GB [gigabit], saat itulah [jaringan] 5G bisa mengandalkan satelit," katanya Ketika ditemui di XL Axiata Tower, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Gede memprediksi perluasan area cakupan jaringan 5G operator seluler menggunakan satelit bisa dilakukan paling cepat dua tahun lagi. Seiring dengan penambahan spektrum frekuensi dan jumlah penggunanya di Tanah Air.
"Jadi, untuk satelit bisa meng-catch up keperluan 5G, ini akan membutuhkan 2 sampai 4 tahun lagi. Mungkin pada saat itu 5G memang sudah mature. Untuk saat ini masih mengandalkan fiber optik, masih mengandalkan microwave dulu," tuturnya.

