Menteri ESDM Kembali Ungkap Komitmen Terapkan NZE, Begini Petanya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Hal tersebut kembali ditegaskan dalam G20 Bali Global Blended Finance Alliance Dialogue. "Kami telah mengembangkan peta Jalan NZE di sektor energi untuk mencapai target emisi dan melaksanakan transisi energi bersih,” katanya dalam keterangannya, Senin (20/5/2024).
Baca Juga
Menuju Net Zero Emission, Menteri ESDM Ungkap Peran Penting Migas
Dia menyebutkan, peta jalan menuju NZE ini mencakup pengembangan energi terbarukan, program pengurangan karbon, pemensiunan dini pembangkit listrik tenaga batu bara, elektrifikasi, langkah-langkah dan praktik efisiensi energi, serta penerapan teknologi CCS/CCUS.
Berdasarkan Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi dari 29% menjadi 32% tahun 2030. Sektor energi diharapkan menyumbang pengurangan emisi sebesar 358 juta ton CO2, meningkat dari target sebelumnya sebesar 314 juta ton CO2.
“Indonesia diberkahi dengan sumber daya energi yang beragam, seperti minyak, gas, batu bara, dan energi terbarukan bersih seperti hidro, surya, angin dan laut. Namun, tantangannya adalah bagaimana memanfaatkannya secara optimal," ungkap dia.
Disampaikan oleh Arifin Tasrif, beberapa program yang sedang dijalankan untuk mendukung peta jalan NZE meliputi pengembangan infrastruktur interkoneksi listrik, infrastruktur pipa gas, dan eksplorasi gas alam secara masif. Ia pun menyoroti pentingnya dukungan keuangan yang memadai untuk mencapai target NZE.
Baca Juga
Potensi Kendaraan Hidrogen Topang Percepatan Net Zero Emission 2060
“Ada beberapa inisiatif seperti JETP, AZEC, IPEP yang saat ini sedang berlangsung, kami juga berharap bahwa G20 Bali Global Blended Finance Alliance (GBFA) dapat mendukung program kami,” jelas Arifin.
Selain itu, Arifin Tasrif menyampaikan, pengembangan teknologi dan skala industri juga menjadi fokus utama untuk memaksimalkan penggunaan energi baru terbarukan.
"Kami mengharapkan kerjasama yang lebih kuat antara negara-negara berkembang dan kurang berkembang agar dapat mempercepat program sehingga tidak ada yang tertinggal," ujarnya.

