Hadapi Tantangan Baja China, Spindo: Pemerintah Perlu Selektif Pilih Investasi Asing
JAKARTA, investortrust.id - Chief Business & Development Officer, PT Steel Pipe Industry Indonesia (Spindo) Tbk Johanes Edward meminta pemerintah lebih selektif terhadap investasi dari luar negeri. Tidak bermaksud menolak investasi asing, Edward, berharap pemerintah memikirkan ulang, sektor mana saja yang perlu mendapat suntikan investasi.
“Saya titip, tolong pemerintah melihat, kita nggak anti investasi asing. Kita sangat senang, tapi tolong sektor dilihat yang butuh mana,” kata Edward, kepada investortrust.id, di Jakarta, saat ditemui Kamis (16/5/2024).
Permintaan Edward ini erat kaitannya dengan industri besi dan baja beberapa tahun terakhir. Menurut dia, industri ini menghadapi tantangan dari investasi China.
Baca Juga
Spindo (ISSP) Akan Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Rp 1 Triliun pada Juli 2024
“Yang terjadi sekarang adalah semua masuk, sehingga yang dibilang serbuan baja China itu bukan lagi barang masuk. Tapi, pabriknya di halaman kita,” kata dia.
Edward mencontohkan pengusaha Tanah Air perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Terutama mengenai konsistensi sektor mana saja yang membutuhkan investasi. Termasuk, kata dia, prioritas mengenai peran pengusaha nasional dalam hilirisasi.
“Kita enggak bisa lah bersaing dengan mereka (industri di China). Kekuatan modal kita kalah jauh,” ujar dia.
Chief Business & Development Officer PT Steel Pipe Industry Indonesia Tbk Johanes Edward berbicara dengan jurnalis pada sesi wawancara di sela acara The Best Investortrust Companies 2024 di Jakarta, Kamis, (16/5/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Edward mengatakan telah mendapat informasi mengenai satu pabrik pipa asal China yang akan membuka pabrik di RI. Dia mengatakan pabrik tersebut mampu memproduksi 16 juta ton pipa baja dalam setahun.
“Krakatau Steel saja sebelum rusak, paling top 8 juta ton. Dia pipa saja 16 juta ton setahun. Bagaimana kita mau melawan? Dan dia mau bikin di sini, kan repot,” ucap dia.
Baca Juga
Tumbuh 62%, Spindo (ISSP) Bukukan Laba Rp 498 Miliar Tahun 2023
Edward berharap pemerintah memetakan ulang investasi mana saja yang bisa diterima di Indonesia. Jangan sampai, kata dia, investasi yang masuk justru mengancam manufaktur lokal.
“Jadi serbuan baja China itu jangan dimaknai barangnya datang, sekarang impor usah. Tapi mereka tahu, mereka bikin (pabrik) di dalam negeri (Indonesia)” ujar dia.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2024, impor besi dan baja Indonesia menurun secara bulanan (month to month/mtm) dan tahunan (year on year/yoy), sebesar masing-masing 23,02% dan 14,71%. Impor besi dan baja tercatat turun dari 1,08 juta ton di Maret 2024 menjadi 0,84 juta ton pada April 2024.
Sementara itu, ekspor komoditas ekspor besi dan baja Indonesia mulai bergerak positif. Pada bulan ini ekspor besi dan baja tercatat 1,88 juta ton. Angka ini naik secara bulanan dan tahunan sebesar masing-masing 1,19% dan 0,22%.

