Jumlah Pengguna Domain .id Rendah, Pandi Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi) menargetkan jumlah domain tingkat atas Indonesia (.id) mencapai 1,2 juta hingga akhir 2024. Penggunaan domain .id saat ini dinilai masih rendah apabila dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di Tanah Air.
Ketua Pandi John Sihar Simanjuntak menyebut jumlah pengguna domain .id mencapai 951.421 hingga akhir 2023. Angka tersebut meningkat 31% apabila dibandingkan dengan jumlah domain .id pada 2022 yang tak lebih dari 726.305.
Walaupun demikian, jumlah domain .id masih sangat kurang apabila dibandingkan dengan jumlah pengguna internet Indonesia yang mencapai 221,56 juta berdasarkan data Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII) pada awal 2024. Demikian halnya dengan domain dari negara-negara lainnya.
"Kalau dibandingkan dengan negara lainnya, kita masih sangat rendah dari total pengguna internet di Indonesia]. China itu [pengguna domain .cn] itu sekitar 20 juta, Jerman [pengguna domain .de] 17 juta. Kita masih ketinggalan dalam hal itu," ungkapnya.
Baca Juga
Domain Internet .id Ditargetkan Capai 1,2 Pengguna hingga Akhir 2024
Menurut John, rendahnya pengguna domain .id di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pemahaman pentingnya menggunakan domain tersebut. Tak sedikit entitas usaha, lembaga nonpemerintah, atau individu yang memilih domain .com yang cakupannya global.
Padahal, domain .com jumlah penggunanya sudah sangat banyak. Tak jarang, memilih domain .com pilihannya sangat terbatas dan sulit lantaran sudah terlebih dahulu digunakan.
"Program dari Pandi adalah bagaimana domain .id bisa menjadi demarkasi wilayah digital Indonesia. Kami mau meningkatkan literasi soal itu," ungkapnya.
Ada dua hal. Pertama, pengembangan market ke luar negeri. Kedua, untuk UMKM dan personal.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Semuel Abrijani Pengerapan mengatakan kedaulatan digital Indonesia diwujudkan dengan perkembangan konten lokal di dunia maya. Khususnya konten lokal yang diunggah menggunakan situs berdomain .id sebagai penanda negara asalnya.
Baca Juga
6 Emiten Raih Penghargaan “The Best Six Investortrust Companies 2024”
"Pak Presiden Jokowi [Joko Widodo] mengatakan kedaulatan nasional itu apa diartikannya? Konten lokalnya berkembang. Jadi, ini yang harus dipahami bersama," katanya.
Semuel menambahkan internet merupakan dunia yang tanpa batas dan sangat tidak mungkin untuk dibuat pembatas. Satu-satunya cara untuk menjaga kedaulatan digital nasional adalah memperjuangkan bersama-sama kepentingan nasional.
"Kita perjuangkan apa kepentingan kita. Dulu kita pernah segala macam mau riset buat [alamat] IP [internet protocol] sendiri. Berani tuh? Salah-salah nanti kita jadi seperti Korea Utara, internetnya tidak tersambung kemana-mana. Jadi, yang harus diperjuangkan kepentingan nasionalnya," tegasnya.
Sebagai catatan, domain .id merupakan domain tingkat tinggi atau country code top level domain (ccTLD). Situs dengan domain TLD dua huruf ini biasanya untuk memudahkan pengguna dalam mengenal asal negara situs tersebut.
ccTLD telah digunakan sejak 1985 dan pertama kali diperkenalkan oleh domain .us (Amerika), .uk (Inggris), dan .il (Israel). Namun, domain .id mulai banyak dipakai pada 1993, walaupun sebenarnya sudah terbentuk sejak 1990.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sejak 2015 telah mendorong para pengguna internet di Indonesia untuk beralih menggunakan domain .id. Sebab, secara garis besar domain .id dapat meningkatkan kecepatan akses situs karena peladen (server) berada di dalam negeri.
Oleh karena itu, pemerintah memberikan keistimewaan kepada situs dengan domain .id, yakni jaminan keamanan dan perlindungan hukum ketika situs diretas atau terkena serangan.

