Sandiaga Uno Pastikan Coret Wacana Iuran Pariwisata dari Pembahasan ITF
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menegaskan, wacana iuran pariwisata sudah dicoret dari pembahasan mengenai dana kepariwisataan Indonesia atau Indonesia Tourism Fund (ITF).
Sandi mengungkapkan, dirinya akan menyampaikan pencoretan wacana tersebut ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam waktu dekat. Dia menegaskan dana kelolaan ITF yang ditargetkan mencapai Rp2 triliun tidak akan dipungut dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sebagai catatan, ITF disiapkan untuk menarik lebih banyak acara bertaraf internasional digelar di Indonesia dengan dukungan pendanaan. Termasuk kegiatan konser musik dari musisi dunia seperti yang dilakukan Singapura saat konser Taylor Swift beberapa waktu lalu.
"Wacana iuran pariwisata sudah dicoret karena tidak ada dalam pembahasan mengenai Indonesia Tourism Fund. Hal ini akan kami jelaskan di DPR karena banyak anggota dewan yang mempertanyakan masalah ini," kata Sandi dalam konferensi pers Weekly Brief with Sandi Uno di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (14/5/2024).
Baca Juga
Menparekraf Ungkap Potensi Devisa dari Arabian Travel Market 2024, Berapa Nilainya?
Sandi sebenarnya sudah berulang kali menegaskan bahwa dana kelolaan ITF tidak akan dipungut dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Sebab, jika iuran tersebut dibebankan ke wisatawan, kontribusi sektor pariwisata ke pendapatan negara terancam anjlok.
"Iuran pariwisata itu tidak dipungut ke wisatawan, apalagi wisatawan nusantara. Sebab, target pendapatan negara dari sektor pariwisata tahun ini antara US$ 15 sampai 20 milar," kata Sandi melalui keterangan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), dikutip Senin (13/4/2024).
Wacana iuran pariwisata yang dibebankan kepada wisatawan menuai polemik. Terlebih iuran tersebut rencananya bakal dipungut melalui tiket pesawat yang dinilai menambah beban penumpang maupun maskapai penerbangan.
Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) Denon Prawiraatmadja menilai wacana iuran pariwisata wacana menjadi beban bagi penumpang maupun maskapai penerbangan. Menurutnya, dengan tambahan iuran pariwisata dalam komponen tiket akan membuat harga tiket menjadi lebih mahal bagi penumpang.
Baca Juga
Sandiaga: Kenaikan Tarif PPN Jadi 12% Tak Akan Pengaruhi Industri Pariwisata
Alhasil, maskapai penerbangan juga akan terkena dampak karena jumlah penumpang akan berkurang jika harga tiket dianggap mahal.
“Dengan demikian tidak seharusnya iuran pariwisata yang sedang digagas oleh Kemenparekraf ditambahkan dalam komponen harga tiket pesawat karena akan menjadi beban tambahan bagi penumpang dan maskapai penerbangan,” kata Denon melalui keterangan resminya, dikutip Senin (13/5/2024).
Menurut Denon, saat ini bisnis penerbangan sedang dalam kondisi rebound setelah terpuruk akibat pandemi Covid -19 pada 2020 sampai dengan 2022. Selain itu, Denon melihat banyak kendala yang dihadapi maskapai penerbangan Indonesia sehingga proses rebound tidak bisa berlangsung lancar jika dibandingkan dengan maskapai penerbangan internasional.
Wacana Iuran pariwisata pertama kali mencuat setelah cuitan pengamat penerbangan Alvin Lie melalui akun X (Twitter) @alvinlie21 pada Sabtu (20/4/2024).
“Ada Menteri yang gemar teriak bahwa harga tiket pesawat mahal, menghambat pariwisata. Sekarang pemerintah malah akan membebankan iuran pariwisata untuk dititipkan pada harga tiket pesawat. Konsumen taunya harga tiket yang naik, padahal uangnya bukan ke Airline (maskapai). Piye tho iki?” tulis Alvin, dikutip Senin (14/5/2024).
Tak sampai disitu, dalam unggahan selanjutnya dia membagikan foto undangan dari Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenkomarves). Undangan tersebut menyebutkan bahwa agenda yang akan dibahas yakni pengenaan iuran pariwisata melalui tiket penerbangan.
''Saya tampilkan ini karena Undangan tersebut sifatnya Biasa, bukan Rahasia,'' tulis Alvin di X.

