Mengapa Sejumlah Pabrik Besar Tutup? Pengusaha Beberkan Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah perusahaan yang bergerak di industri manufaktur padat karya tengah menjadi sorotan, seiring dengan penutupan beberapa pabrik pada pertengahan tahun ini. Setidaknya tiga perusahaan besar telah memutuskan penutupan pabrik.
Tiga perusahaan yang menutup pabriknya terdiri atas, pabrik ban milik PT Hung-A Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, dan pabrik garmen PT Cahaya Timur Garmindo. Kemudian yang terbaru pabrik alas kaki atau sepatu milik PT Sepatu Bata Tbk (BATA) di Purwakarta, Jawa Barat.
Baca Juga
PT Sepatu Bata Tbk Menutup Pabrik karena Ingin Bertransformasi
Padahal, keberadaan industri ini sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan berkontribusi 19,28% terhadap produk domestic bruto (PDB) ada kuartal I 2024 ini. Lantas ada apakah dengan industri manufaktur di tanah air?
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengungkapkan salah satu pemicu dari penutupan sejumlah pabrik besar tersebut adalah kondisi permintaan atau demand dari pasar, khususnya terhadap ekspor alas kaki.
"Perlu diketahui bahwa pabrik-pabrik yang ditutup di Jawa Barat umumnya adalah pabrik industri manufaktur padat karya, dan sebagian besar berorientasi ekspor, khususnya di sektor garmen, dan alas kaki," ucapnya kepada investortrust.id, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
PMI Manufaktur RI Ekspansif 32 Bulan Berturut-turut, Lampaui Thailand hingga Jepang
"Penutupan pusat produksi mereka di Jawa Barat tidak terlepas dari kenyataan bahwa demand terhadap ekspor garment dan alas kaki Indonesia tidak cukup baik kalau dibandingkan dengan sebelum pandemi (Covid-19)," tambah Shinta menjelaskan.
Masih terkait dengan persoalan permintaan, Shinta mengatakan, kondisi tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari impor barang illegal yang masuk ke dalam negeri. Sehingga, daya saing di tanah air untuk industri manufaktur semakin sulit.
"Ini isu yang sudah lama sehingga di pasar domestik kita tetap menemukan produk garment dan sepatu yang diimpor secara ilegal melalui penyelundupan tau penyalahgunaan dokumen impor, oknum, dan lain-lain," terangnya.
Baca Juga
Industri Manufaktur hingga Properti Diyakini Bisa Dorong Ekonomi Tumbuh 5%
"Jadi industri-industri ini semakin terdesak untuk meningkatkan efisiensi produksi agar bisa tetap eksis di pasar. Salah satunya dengan pengurangan karyawan atau dengan memindahkan pusat produksi ke daerah lain yang dirasa lebih affordable," imbuh Shinta.
Selain masalah demand, Shinta meyebutkan bahwa usaha menengah di Jawa Barat tergolong memakan biaya yang mahal dan memberatkan untuk pelaku industri padat karya seperti garment dan sepatu. Pasalnya, margin usahanya tidak sebesar industri manufaktur lain seperti industri otomotif atau elektronik.
"Apalagi, di Jawa Barat juga terdapat history yang panjang terkait konflik hubungan industrial, di mana beberapa konflik tersebut juga cukup violent. Sehingga beberapa perusahaan merasa kurang nyaman. Ini juga turut menjadi faktor pendorong indistri untuk pindah," tandasnya.

