ABUPI Sebut Indonesia Tidak Bisa Kalahkan Singapura dalam Persaingan Bisnis Pelabuhan
JAKARTA, investortrust.id – Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) mengungkapkan, Indonesia tidak bisa mengalahkan Singapura dalam sektor kepelabuhanan. Namun, dapat memperpendek jarak persaingan dengan meningkatkan infrastruktur pelabuhan, meningkatkan produktivitas pelabuhan, serta memperjelas regulasi atau peraturan agar tidak tumpang-tindih.
“Kita harus akui, daya saing kita (Indonesia) masih rendah. Tapi kalau dibandingkan 10 tahun yang lalu, lebih baik sekarang. Mengalahkan (Singapura) nggak mungkin, tapi memperpendek jarak masih bisa,” kata Ketua Umum ABUPI, Aulia Febrial Fatwa dalam acara intimate dinner bersama ABUPI di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (8/5/2024) malam.
Berdasarkan data Bank Dunia dari sisi Logistic Performance Index (LPI) tahun 2023, Indonesia tercatat sebesar 3,0 atau peringkat 63 sedunia. Masih kalah dengan keempat negara Asia Tenggara atau ASEAN, yakni Singapura (4,3) di peringkat pertama, Malaysia (3,6) peringkat ke-26, Filipina (3,3) peringkat ke-47, dan Vietnam (3,3) peringkat ke-50.
Baca Juga
Serap Investasi Rp 4 Triliun, TPK Batu Ampar Dikembangkan Jadi Pelabuhan Internasional
Dari sisi arus kontainer ekspor impor (throughput) container, menurut data Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) di tahun 2023, pelabuhan Singapura tercatat sebesar 39,01 juta unit setara dua puluh kaki (TEU). Sedangkan di Indonesia, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mencatat throughput sebanyak 2,12 juta TEU sepanjang tahun 2023.
Aulia turut menyatakan, ada tiga syarat untuk meningkatkan produktivitas sektor pelabuhan Indonesia. Yakni meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), konsistensi menjalankan bisnis pelabuhan secara berkelanjutan, serta mematuhi peraturan atau regulasi yang ada.
“Kita itu negara besar, sumber daya kita itu gede banget. Tapi kalau nggak kita manfaatkan dengan baik, kita nggak punya daya saing,” pungkas dia.
Baca Juga
Kunjungi Jepang, Menhub Bahas Kerja Sama Pengembangan MRT Jakarta, Pelabuhan Patimban hingga TOD
Perlu diketahui, biaya logistik jasa kepelabuhanan di Indonesia untuk ekspor-impor disebut termahal di kawasan ASEAN. Menurut data Kementerian Keuangan pada tahun 2022, biaya logistik di Indonesia mencapai 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di tahun 2023, biaya logistik di Indonesia hanya mencapai 14,29% dan biaya logistik untuk kegiatan ekspor malah sudah tinggal 8,98% dari PDB.

