Industri Baterai EV Indonesia Disarankan Ganti Litium dengan Sodium Agar Lebih Murah
JAKARTA, investortrust.id – Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Alexander Barus menyarankan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia menggunakan sodium sebagai pengganti litium dalam pembuatan katoda agar lebih murah.
Menurut Alexander Barus, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang melimpah. Karena itu, pemerintah sedang menggenjot hilirisasi, termasuk untuk pembuatan baterai EV, di antaranya baterai NMC yang merupakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt.
Baca Juga
Aturan Baru! Mobil Listrik Impor Kini Bebas Pajak Barang Mewah
Kendati demikian, Alexander Barus memandang produksi baterai NMC masih tergolong mahal karena masih butuh litium untuk katodanya. Padahal, Indonesia tidak memiliki tambang litium.
“Kita nggak punya litium. Mestinya kita bisa memproduksi baterai sendiri yang terdiri atas kobalt, mangan, dan sodium sebagai elektrolit, bukan litium, sehingga baterai kita lebih bagus densitasnya daripada lithium ferro-phosphate (LFP),” kata Alexander Barus dalam acara The 3rd Nickel Producers, Processors & Buyers Conference di Jakarta, Selasa (7/5/2024).
Alexander menjelaskan, baterai EV berbahan sodium lebih murah dibanding litium. “Kalau pakai litium, baterai ini menjadi mahal. Kalau elektrolitnya diganti sodium, harganya bisa kompetitif,” ujar dia.
Baca Juga
Alexander menerangkan, jika Indonesia beralih menggunakan sodium, bukan berarti nikel terabaikan. Nikel tetap diperlukan untuk kadota. Penggunaan nikel juga tetap akan masif untuk berbagai hal lain.
“Penggunaan nikel luas. Untuk energy storage kan bisa, untuk handphone kita, untuk engineering tetap dibutuhkan. Kalau kita bangun solar panel kan butuh penyimpanan baterainya. Tetap saja kita butuh nikel,” tegas Alexander.

