Lifting Minyak 2023 Tak Capai Target, Ternyata Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto mengakui lifting minyak di tahun 2023 tidak mencapai target. Dwi pun mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target lifting minyak di 2023.
Lifting minyak tahun lalu sejatinya ditargetkan 660 ribu barel per hari (BOPD), namun realisasinya hanya 605,5 ribu BOPD. Angka tersebut bahkan lebih rendah dari lifting minyak di tahun 2022 yang mencapai 612,3 ribu BOPD.
“Lifting minyak mencapai 605,5 ribu barel per hari. Kita di minyak terjadi penurunan 1% (dibanding tahun 2022). Ini adalah penurunan terendah di satu tahun, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Dwi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (13/3/2024).
Baca Juga
Lifting Migas di Kepri Tahun 2023 Lampaui Target, 2024 Dipatok 17.491 BOPD
Dwi menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target tahun lalu dikarenakan terjadi safety stand down di seluruh wilayah Pertamina selama sekitar empat bulan, yang mengakibatkan kegiatan pengeboran tertunda. Sehingga baru bisa dimulai lagi di bulan April 2023.
Kemudian, faktor lainnya adalah terkait dengan pengadaan lahan, perizinan, dan finansial. Disebutkan bahwa ada kendala pembebasan lahan di wilayah PPKH seperti misalnya di PHR. Kemudian ada kendala finansial di PT ITA, MOSL, dan lain-lain.
“Selanjutnya ketersediaan rig. Ini sempat terjadi. Kita coba mendatangkan potensi rig dari luar negeri untuk dipakai di Indonesia sementara, sampai ada produksi dalam negeri yang bisa menggantikan,” jelas Dwi.
Baca Juga
Target Lifting Minyak Turun di 2024, SKK Migas Siapkan Strategi Ini
Adapun faktor-faktor yang menjadi kendala lainnya adalah unplanned shutdown, delay proyek-proyek onstream, cuaca dan banjir, hingga integrasi infrastruktur gas. Meski begitu, Dwi menegaskan bahwa di tahun 2024 ini pihaknya akan berupaya untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
“Target untuk 2024 adalah 635 ribu BOPD di APBN. Sedangkan dari hasil Work Plan & Budget (WP&B) adalah 596 ribu BOPD. Tentu saja ini akan kami upayakan tidak kurang dari 600 ribu BOPD ke depan,” tegas dia.

