Dunia Belum Siap dengan Mobil Hidrogen
JAKARTA, investortrust.id -- Pemerintah Indonesia dan pelaku industri otomotif perlu mengkaji cermat dan berhati-hati dalam membuat keputusan untuk mengembangkan mobil hidrogen. Sebab, dunia pun belum siap untuk mengimplementasikan teknologi ini dalam kondisi ideal, termasuk negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa.
“Untuk mobil listrik BEV dan PHEV saja negara kita masih perlu kerja keras mempersiapkan sarana charging, apakah mau kita memosisikan diri di persimpangan jalan? SPKLU saja belum beres sudah urus yang lain?” kata pakar dan pengamat otomotif Bebin Djuana kepada investortrust.id, Sabtu (16/3/2024).
Bebin melihat memang yang serius menggembangkan mobil hidrogen adalah Toyota. “Tapi apakah di Jepang sendiri, dari Hokaido di utara sampai Okinawa di selatan sudah siap sarana pengisian hidrogen?” tanyanya.
Pengembangan ekosistem mobil hidrogen ditandai dengan aksi PT Pertamina (Persero) melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) hydrogen refueling station (HRS) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Daan Mogot, Jakarta, pada Januari 2024 lalu.
Sekitar sebulan setelah Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyusul dengan peresmian HRS atau stasiun pengisian kendaraan hidrogen (SPKH) yang berlokasi di Senayan, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Langkah ini merupakan tindak lanjut inovasi PLN sebelumnya, yaitu pengoperasian 21 unit green hydrogen plant (GHP) yang tersebar di Indonesia pada November 2023.
Di level global, penjualan mobil hidrogen (FCEV) bertumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun. Pada periode 2017-2023 pertumbuhannya mencapai rata-rata 22,5%, meskipun tahun lalu minus atau menurun 30,2%.
Dilihat dari sisi produsen, pada tahun 2023, China Commercial, memimpin dengan total penjualan 5.362 unit, disusul Hyundai 5.012 unit, dan Toyota tercatat 3.839 unit.
Bebin Djuana sebelumnya pernah mengatakan bahwa untuk mengajak masyarakat beralih ke mobil listrik saja tidak mudah karena terkait dengan lifestyle. Transisi penggunaan mobil konvensional (internal combustion engine/IC Engine) ke kendaraanbaterai listrik murni (battery electric vehicle/BEV) perlu dijembatani lebih dahulu oleh kendaraan hibrida (hybrid electric vehicle/HEV).
Kenapa? Karena bila baterai tinggal sedikit, 30% misalnya, masih bisa jalan terus karena masih ada ICE. Saat pindah ke ICE, baterai bisa charging dan mobil masih bisa terus berjalan.
Jadi, kata dia, HEV adalah pilihan yang tepat dalam transisi dari IC engine ke BEV yang ramah lingkungan sembari menunggu persiapan pemerintah dalam infrastruktur. “Apalagi harga mobil BEV juga masih mahal saat ini,” tuturnya.
Baca Juga

