Arah Teknologi Mobil Hidrogen di Indonesia, FCEV atau HICE?
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia ikut dalam tren dunia untuk mengembangkan mobil hidrogen. Dua BUMN raksasa, Pertamina dan PLN sudah memberikan dukungan dengan membangun ekosistem mobil hidrogen. Pertanyaannya, teknologi mana yang akan kita pilih jika memang serius berkomitmen mengembangkan mobil hidrogen?
Menurut pakar dan pengamat otomotif dari Intitut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, dalam industri otomotif saat ini, dua kelompok utama berbeda pendapat tentang teknologi penggerak terbaik.
Kelompok pertama mendukung mesin pembakaran internal (ICE), termasuk HICE yang menggunakan hidrogen, karena relatif matang dan lebih murah.
“Namun, saat ini teknologi ini masih lebih rendah efisiensinya dan masih menghasilkan emisi,” kata Yannes kepada investortrust, Senin (18/3/2024).
Sementara itu, kata Yannes, kelompok kedua mendorong elektrifikasi, termasuk fuel cell electric vehicle (FCEV), yang lebih ramah lingkungan dengan emisi nol, meskipun masih terkendala oleh mahalnya biaya kepemilikan awal.
Namun, berdasarkan perkembangan terkini, menurut Yannes, HICE memiliki potensi untuk menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan dengan FCEV. Terutama karena kemampuannya untuk memanfaatkan infrastruktur dan teknologi mesin pembakaran internal yang sudah matang.
Keuntungan utamanya adalah biaya produksi yang lebih rendah, tidak memerlukan logam langka, dan dapat menggunakan hidrogen dengan kemurnian lebih rendah, sehingga dapat menurunkan biaya operasional. Keunggulan lain HICE adalah penggunaan teknologi mesin pembakaran internal yang sudah matang dan teruji. Hal ini, lanjut Yannes, dapat menawarkan integrasi yang lebih mudah ke dalam infrastruktur dan rantai pasok otomotif yang ada.
“Dengan demikian industri komponen motor bakar otomotif yang ada saat ini tidak perlu membesituakan semua investasi besar yang sudah mereka tanamkan. Mereka cukup mengembangkan beberapa komponen kunci terkait sistem pembakaran internal yang lebih baik lagi dengan menggunakan hidrogen yang tidak murni,” kata pakar desain otomotif ini.
Sebelumnya, Yannes menyebut bahwa mobil hidrogen kategori fuel cell electric vehicle (FCEV) hingga kini masih menghadapi tantangan berat sehingga belum layak untuk diproduksi massal, meskipun memiliki berbagai keunggulan. Kendala yang saat ini dihadapi mobil hidrogen dalah biaya yang tinggi untuk produksi hidrogen itu sendiri, komponen kendaraan yang lebih kompleks dan mahal, serta infrastruktur pengisian yang belum merata.
“Hal itu membuatnya kurang menarik dibandingkan dengan mobil listrik (HEV/PHEV/BEV) untuk sebagian besar konsumen,” kata dia.
Meskipun, Yannes menyebut bahwa FCEV menawarkan waktu pengisian bahan bakar hidrogen yang cepat dan jarak tempuh yang lebih jauh. Faktor-faktor kelebihan ini belum cukup untuk mengatasi hambatan awalnya.
“Di level global, jenis merek, dan penjualan FCEV juga masih terbatas, dengan adopsi terfokus pada beberapa wilayah yang mendukung melalui insentif dan investasi infrastruktur,” ujarnya.
Dalam pandangan Yannes, jika teknologi combustion-nya berhasil dikembangkan, mobil hidrogen akan memiliki potensi besar di masa depan. Terutama jika infrastruktur pengisian hidrogen terus berkembang dan teknologi motor bakar khsusus untuk hidrogen dapat dikembangkan menjadi lebih matang dan terjangkau.
Dia menilai, inisiatif dari Pertamina dan PLN untuk membangun stasiun pengisian hidrogen merupakan langkah positif yang dapat meningkatkan adopsi hidrogen ICE di Indonesia. Langkah tersebut juga dapat memperluas pilihan kendaraan ramah lingkungan bagi konsumen dan mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
“Kesuksesan ekosistem hidrogen juga akan bergantung pada dukungan pemerintah, penelitian dan pengembangan, serta kolaborasi antarindustri,” tegasnya.
Sedangkan pakar dan pengamat otomotif senior, Bebin Djuana mengingatkan agar Pemerintah Indonesia dan pelaku industri otomotif mengkaji cermat dan berhati-hati dalam memutuskan untuk mengembangkan mobil hidrogen. Sebab, dunia pun belum siap untuk mengimplementasikan teknologi ini, termasuk negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa.
“Untuk mobil listrik BEV dan PHEV saja negara kita masih perlu kerja keras mempersiapkan sarana charging, apakah mau kita memosisikan diri di persimpangan jalan? SPKLU saja belum beres sudah urus yang lain?” kata Bebin Djuana, Sabtu (16/3/2024).
Bebin melihat memang yang serius menggembangkan mobil hidrogen adalah Toyota. “Tapi apakah di Jepang sendiri, dari Hokaido di utara sampai Okinawa di selatan sudah siap sarana pengisian hidrogen?” tanyanya.
Baca Juga

