Rupiah Anjlok, Pengusaha Makanan dan Minuman Menjerit dan Minta Ini ke Pemerintah
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman meminta Bank Indonesia (BI) segera mengintervensi pelemahan nilai tukar rupiah yang telah mencapai level lebih dari angka Rp 16.000/US$ dalam beberapa hari terakhir.
Adhi meminta, pemerintah segera melakukan antisipasi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah ini, apalagi pelemahan diperparan kondisi konflik yang terjadi di Timur Tengah, yakni serangan Iran yang digencarkan kepada Israel sejak Sabtu (13/4) kemarin.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Menperin Ungkap Dampak Ini bagi Industri Manufaktur Domestik
"Kami berharap pemerintah bisa mengantisipasi khususnya nilai tukar ini kalau bisa BI segera mengintervensi ya. Karena ini kan habis liburan, mudah-mudahan segera dilakukan, supaya stabil agar tidak terlalu berat bagi pengusa. Apalagi kemarin rupiah sempat menyentuh Rp 16.200. kalau ini terus dibiarkan mungkin bisa meningkat karena ketidakpastian," ," ucap Adhi saat ditemui di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (16/4/2024).
Selain itu, bos pengusaha makanan dan minuman ini meminta pemerintah untuk memberikan kompensasi kenaikan biaya bahan baku industri yang menjadi salah satu dampak dari kondisi pelemahan rupiah, serta konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel.
"Salah satunya kebijakan bea masuk bahan baku. Bahan baku industri Mamin itu kebanyakan kena regulasi yang cukup ketat, kayak Permendag juga," terang Adhi.
Baca Juga
"Sementara produk jadi itu bea masuk Rp 0. Kita harap pemerintah bisa mereview apakah bea masuk bisa ditangguhkan sementara saat masa sulit ini, supaya ada keseimbangan antara produk jadi dan bahan baku," tandasnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak pada industri manufaktur Indonesia. Pasalnya, hal itu akan berpengaruh ke harga impor bahan baku.
"Rupiah sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi manufaktur di Indonesia. Kalau rupiahnya melemah, dia akan membawa dampak terhadap Impor bahan baku yang masih belum tersedia di Indonesia, bahan penolong, dan itu pasti akan mengaruhi dari cost of production," ucap Agus.

