Banyak Orang Indonesia Jadi CEO di Perusahaan Jepang Tunjukkan Merit System
JAKARTA, investortrust.id – Banyaknya orang Indonesia yang sudah menjadi chief executive officer (CEO) di perusahan Jepang di Indonesia menunjukkan fairness Jepang dalam menerapkan prinsip merit system. Di sisi lain, prestasi ini merupakan bukti kemampuan SDM kita dalam berkompetisi di perusahaan asing dan keberhasilan pembinaan sumber daya manusia (SDM) oleh perusahaan Jepang.
Saat ini, jumlah perusahaan Jepang di Tanah Air total sekitar 1.800. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, investasi Jepang di Indonesia tahun 2022 menembus US$ 3,56 miliar. Investasi Negeri Sakura ini menempati peringkat keempat terbesar tahun lalu, setelah Singapura, Tiongkok, dan Hong Kong.
Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang Rachmat Gobel pun memuji sikap Jepang dalam cara berinvestasi di negara lain, bukan hanya pocket to pocket, tapi heart to heart. “Sehingga, terjadi transfer of job, transfer of knowhow, dan akhirnya transfer of technology. Ini karena investasi Jepang di Indonesia bukan hanya soal keuntungan ekonomi, tapi juga ikut membangun SDM. Hal itu dibuktikan dengan makin banyaknya CEO di perusahaan Jepang yang merupakan putra Indonesia,” katanya saat menerima delegasi New Komeito di gedung DPR RI, Jakarta, Jumat 18 Agustus 2023. New Komeito merupakan partai mitra koalisi Partai Demokrasi Liberal (LDP) yang kini memimpin pemerintahan Jepang.
Delegasi dipimpin Ketua Umum New Komeito Natsuo Yamaguchi, yang didampingi Tomoko Ukishima (wakil ketua) dan Masaaki Taniai (kepala humas). Mereka juga merupakan anggota parlemen Jepang. Pertemuan itu juga dihadiri Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasugi. Selain itu, anggota DPR RI dari Partai Nasdem Ratih Megasari Singkaru (dari Sulawesi Barat) dan Fauzi Amro (dari Sumatra Selatan).
16 Ribu WNI Kerja di Jepang
Pada kesempatan itu, Yamaguchi menyampaikan, 1.800 perusahaan Jepang melakukan investasi di berbagai bidang di Indonesia. “Perusahaan-perusahaan Jepang tak hanya berkontribusi di bidang ekonomi untuk kemajuan Indonesia, tapi juga ikut membangun SDM Indonesia. Bahkan, di Jepang terdapat 16 ribu warga Indonesia yang bekerja dengan keterampilan khusus yang dibutuhkan masyarakat Jepang,” katanya.
Gobel mengingatkan bahwa hubungan Indonesia-Jepang yang sudah terjalin 65 tahun tersebut merupakan bukti hubungan baik kedua negara. Jepang telah melakukan investasi di Indonesia dalam jumlah yang cukup besar dan ke depan harus lebih besar.
Oleh karena itu, ia meminta Jepang ikut terlibat dalam pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, yang akan memberikan dampak besar bagi kemajuan Indonesia timur. Jepang ini memiliki pengalaman panjang dan sudah dibuktikan dalam membangun kota yang berwawasan lingkungan, yang sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo tentang pembangunan IKN yang berwawasan lingkungan.
“Jepang jangan hanya berinvestasi di bidang otomotif dan elektronika, tapi juga sudah saatnya memperbanyak investasi di sektor pertanian, kelautan, dan peternakan. Sekitar 60 persen penduduk Indonesia terlibat di tiga sektor ini, jadi akan memiliki dampak besar bagi pemerataan ekonomi, ketahanan nasional, dan pengentasan kemiskinan,” katanya.
Ia mengingatkan pula, pascapandemi Covid-19, perang Ukraina-Rusia, dan climate change, dunia dihadapkan pada potensi krisis pangan. Di sisi lain, Jepang sudah terbukti memiliki keunggulan dan sangat maju dalam pertanian dan pangan pada umumnya.
Gobel sudah berkunjung ke sejumlah daerah di Jepang, yang sektor pertanian, peternakan, dan perikanannya sangat maju. “Buah dan hasil pertaniannya cuma ada dua: enak dan enak sekali. Jadi, kemampuannya di bidang tersebut harus ditransfer ke Indonesia. Bahkan, di Ibaraki, Hokota, terdapat petani-petani muda dari Bali yang bekerja di lahan-lahan pertanian di Jepang,” katanya.
Gobel juga menyebutkan, Jepang memiliki keunggulan dalam teknologi dan memiliki pengalaman yang panjang sebagai negara maju. Sedangkan Indonesia memiliki lahan, kekayaan sumber daya alam, dan pasar yang besar.
“Jika keunggulan masing-masing negara ini disinergikan, maka kedua bangsa akan memiliki kontribusi besar bagi dunia, bukan hanya memberikan keuntungan kepada dua negara saja,” katanya. (pd)
