Tingkat K3 di Subsektor Migas Membaik, Dirjen: Kita Pantau Terus
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, mengapresiasi jajarannya lantaran berhasil meningkatkan angka keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di subsektor migas. Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa hal ini harus terus dipantau.
“Tahun ini proper merah yang artinya perlu mendapat perhatian, itu dari tahun ke tahun menurun. Kami ucapkan terima kasih atas upaya Bapak/Ibu sekalian dalam mengurangi kecelakaan-kecelakaan yang terjadi,” ujar Tutuka Ariadji dalam acara Penutupan Bulan K3 Nasional di Kantor Lemigas Jakarta, Selasa (20/2/2024).
Tutuka menyampaikan bahwa saat ini pihaknya juga membantu Direktur Teknik Lingkungan dan tim untuk selalu berupaya memperhatikan apa yang terjadi, dan menjadikan hal tersebut sebagai pembelajaran untuk perbaikan ke depannya.
Baca Juga
Ini Dia 23 Kandidat Wilayah Kerja Migas yang Akan Dilelang di 2024, Cek Daftarnya!
Disebutkan, setiap ada kecelakaan yang terjadi, Ditjen Migas akan langsung mengirimkan tim, yang mana tim tersebut nantinya memberikan laporan. Setelah itu akan dilaksanakan pemantauan terhadap pelaksanaan hasil laporan tersebut.
“Sebagai contoh kecelakaan di kilang, pada saat ini kami memperhatikan bahwa instalasi penangkal petir sudah terpasang dengan standar yang lebih baik. Hal seperti itu kita pantau terus, perbaikan-perbaikan, jadi itu menjadi pembelajaran yang sangat penting,” terang Tutuka.
Meski angka keselamatan dan kesehatan kerja membaik, Tutuka tak ingin berpuas diri. Menurutnya, peningkatan K3 harus terus dilakukan, mengingat belakangan ini banyak ditemukan sumber daya gas yang baru di Indonesia.
Baca Juga
Peringati Bulan K3 Tahun 2024, Perta Arun Gas Ajak Seluruh Perwira Utamakan Aspek HSSE dalam Bekerja
Tutuka memaparkan bahwa di utara Sumatera terdapat blok Andaman, Andaman II, South Andaman, serta West Andaman. Kemudian juga di Selat Makassar ditemukan sumber-sumber baru yang eksplorasinya banyak dilakukan oleh ENI.
“Apa artinya semua ini? Kami yakin bahwa ke depan transisi energi Indonesia adalah utilisasi pemanfaatan gas. Namun, keselamatan migas berbeda. Gas mempunyai sifat bertekanan tinggi, jadi penanganannya berbeda, sebagian besar gas di Indonesia juga mengandung CO2. Artinya apa? Artinya keselamatan migas kita juga perlu diperbarui bersama-sama,” tandas Tutuka.

