Jika Eskalasi Timur Tengah Berlanjut, Indef Beberkan Dampaknya bagi Harga Minyak hingga APBN
JAKARTA, investorhtrust.id - Konflik yang melanda Iran dengan Israel dikhawatirkan bisa memicu kenaikan harga minyak dunia ke depan. Bahkan, harganya berpotensi menembus level US$ 100 per barel dan akhirnya membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Vice Director Indef Eko Listiyanto mengatakan, perhitungan tersebut bukan tanpa alasan, karena Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar di dunia. Sedangkan berdasarkan data US Energy Information Administration (ElA), Timur Tengah memproduksi 35% minyak dunia.
Baca Juga
Selain itu, sebanyak 30% minyak dunia diekspor dari Timur Tengah melalui jalur Selat Hormuz. Jika perang Timur Tengah terjadi bisa berakibat terhadap penutupan Selat Hormuz, sehingga harga dan pasokan minyak dunia akan terguncang.
“Kalau 30% dari suplai minyak global ini terganggu pasti implikasinya kepada harga minyak. Kalau asumsinya di atas US$ 100 per barel itu akan mengganggu subsidi BBM nasional dan subsidi energi kita,” kata Eko dalam webinar yang diselenggarakan Indef dan Universitas Paramadina, Senin (22/4/2024).
Kendati demikian, Eko menyebut, harga minyak nantinya tetap mengacu pada sisi fundamental. Apabila ekonomi global melambat yang berdampak terhadap penurunan permintaan energi, terbuka peluang penurunan harga.
Baca Juga
Selat Hormuz Punya Peran Penting Jaga Stabilitas Harga Minyak Dunia, Ini Alasannya
“Kalau kemudian akibat dari konflik ini, semua pelaku ekonomi global merugi atau katakanlah ekonomi global ini melambat, maka harga minyak tembus level US$ 100 per barel hanya bersifat sementara. Saya menduga rekor tersebut tidak akan berlangsung lama,” ujar Eko.
Eko menerangkan, pada akhirnya harga tersebut akan terkoreksi menjadi harga yang berdasarkan dari faktor fundamental. Kalau ekonomi globalnya tidak naik, maka permintaan energi itu akan stabil atau bahkan cenderung turun.

