Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (12/4/2024). Rebound ini dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang meningkatkan risiko gangguan pasokan dari kawasan penghasil minyak itu.
Melansir Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 75 sen, atau 0,84%, ke level US$ 90,49 per barel pada pukul 06.30 GMT. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 87 sen, atau 1,02% ke level US$ 85,89.
Kenaikan ini menghapus kerugian para trader dari sesi sebelumnya yang didominasi oleh kekhawatiran inflasi AS yang mengurangi harapan untuk penurunan suku bunga pada awal Juni nanti.
Selain itu, kenaikan harga minyak juga dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah menyusul pesawat tempur Israel yang dicurigai mengebom Kedutaan Besar Iran di Damaskus dalam serangan yang Iran telah bersumpah untuk membalas dendam. Hal ini meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah tegang oleh perang Gaza.
Israel belum mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab, tetapi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan pada hari Rabu bahwa Israel harus dihukum dan itu akan terjadi atas serangan itu.
Baca Juga
Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan serangan Iran terhadap Israel tidak akan cukup besar untuk menarik Washington ke dalam perang. Sumber-sumber Iran pun mengatakan bahwa Teheran telah mengisyaratkan untuk menghindari eskalasi konflik.
“Israel juga mempertahankan perangnya di Gaza tetapi juga mempersiapkan skenario di daerah lain,” kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada Kamis (11/4/2024).
ANZ Research mengatakan, kenaikan harga minyak yang mencapai hampir 19% juga didukung oleh peningkatan kondisi ekonomi dan pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu (OPEC+).
Harga minyak masih ditetapkan untuk penurunan mingguan karena Brent dan WTI menuju penurunan sekitar 1% pada 0630 GMT pada hari Jumat.
Analis ING menjelaskan, mereka mengharapkan kemunduran dalam reli harga minyak jika tidak ada eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah atau gangguan pasokan, serta laporan pasar bulanan terbaru OPEC juga sejalan dengan ekspektasi.
"Kami mempertahankan perkiraan kami untuk Brent hingga rata-rata US$ 87 per barel selama kuartal kedua tahun ini," tambah analis ING. (CR-5)

