Industri Hulu Migas Sumbang 3,5% pada PDB, Insentif Investasi Perlu Dipertahankan
JAKARTA, investortrust.id - Tenaga Ahli Menteri ESDM bidang Integrasi, Koordinasi dan Interface Migas, Nanang Untung menyebutkan, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), sektor minyak dan gas bumi (Migas) menyumbang sekitar 3,5% terhadap PDB tahun 2022. Selain itu, Migas juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan negara.
“Menurut data BPS sektor migas menyumbang sekitar 3,5% terhadap PDB di tahun 2022. Selain itu sektor ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara baik melalui pajak, royalti mau pun bagi hasil,” tegas Nanang dalam acara Forum Kapasitas Nasional III 2023, Jakarta, Kamis (23/11).
Menurut Nanang, total penerimaan negara dari sektor migas tahun 2022 mencapai Rp 263 triliun atau 80% dari total penerimaan negara. Seiring dengan kontribusinya, industri migas menjadi salah satu sektor yang strategis dalam membangun perekonomian Indonesia.
Baca Juga
Perkuat 'Demand - Supply', SKK Migas Gelar Puncak Forum Kapasitas Nasional
Industri migas juga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia mulai dari pekerja di lapangan operasi hingga berbagai sektor pendukung. Oleh sebab itu, pemerintah pun kerap memberikan insentif kepada industri hulu migas.
“Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan berbagai insentif hulu migas untuk mendorong peningkatan produksi migas. insentif ini meliputi penyesuaian harga jual gas, penurunan tarif pajak, peningkatan nilai investasi kredit (invesment credit) dan peningkatan alokasi anggaran untuk kegiatan eksplorasi,” ujarnya.
Insentif tersebut diharapkan dapat menarik investor baik dalam negeri maupun luar negeri untuk berinvestasi di hulu migas.
Baca Juga
SKK Migas Pastikan Temuan Cadangan Gas Raksasa di Kalimantan Timur
Di sisi lain, dampak dari kegiatan industri hulu migas dapat dirasakan mulai dari pengembangan wilayah operasi, industri penunjang hulu migas dan masyarakat sekitar yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan dampak terhadap ikatan kapasitas nasional secara menyeluruh.
Oleh sebab itu, Nanang berharap ke depan kapasitas nasional dapat terus dikembangkan untuk memajukan ekonomi negara. Ia menambahkan bahwa diperlukannya sinergi dari berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan pengembangan kapasitas nasional.
“Untuk mencapai kondisi peningkatan kapasitas yang komperhensif dan berkelanjutan diperlukan kerjasama dan sinergi antara pemerintah, SKK Migas, kontraktor, industri penunjang, perguruan tinggi, termasuk vokasi dan masyarakat,” tuturnya. (CR-4)
Baca Juga
SKK Migas Ingatkan Risiko Kecurangan dan Korupsi dalam Investasi Hulu Migas

