Tambang Nikel Perusahaan Asutralia di Indonesia Mulai Dilirik 25 Produsen Otomotif dan Baterai Listrik
JAKARTA, investortrust.id - Lebih dari 25 produsen otomotif dan baterai global disebut-sebut telah menyatakan minatnya untuk membeli nikel dari pabrik nikel baru di Indonesia yang dimiliki oleh produsen Australia, Nickel Industries Ltd. Disampaikan Presdir Nickel Industries Ltd, Justin Werner, Selasa (9/4/2024), pemesanan tersebut merupakan boosting terbaru bagi dominasi nikel Indonesia.
Nickel Industries Ltd diketahui memiliki anak usaha di Indonesia, PT Gemala Borneo Utama yang memiliki izin usaha pertambangan di Pulau Romang.
Gemala Borneo dinilai sangat prospektif dan menjadi kontributor produksi bagi Nickel Industries Ltd yang cukup signifikan setelah diakuisisi dari Grup Salim pada tahun 2012.
Nickel Industries dilaporkan menawarkan 70.000-80.000 metrik ton per tahun dari pabrik leaching asam tekanan tinggi (HPAL) baru mereka di Sulawesi yang dijadwalkan selesai pada paruh kedua tahun 2025.
High Pressure Acid Leaching merupakan pengolahan dan pemurnian nikel limonit dengan melarutkannya dalam wadah bertekanan atau suhu tinggi (autoclave) dan selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dari larutan konsentrat untuk mendapat mineral yang lebih murni, yaitu nikel dan kobalt.
"Kami telah mendapatkan pernyataan minat yang cukup baik," kata Werner kepada Reuters, Selasa (9/4/2024). "(Tapi) Kami tidak terburu-buru untuk membuat keputusan."
Indonesia telah menjadi sebagai kekuatan pasokan nikel dunia, memproduksi lebih dari setengah pasokan nikel dunia, dan diperkirakan akan menyumbang hampir tiga perempat pasokan global pada akhir dekade ini.
Baca Juga
Indonesia Bisa Kalahkan Uni Eropa soal Nikel di Tingkat Banding WTO, Ini Syaratnya…
Pabrik HPAL Nickel Industries akan memproduksi nikel dalam bentuk katoda, serta presipitat hidroksida campuran (MHP) dan nikel sulfat yang digunakan untuk membuat baterai kendaraan listrik.
Perusahaan juga sedang mencari investor untuk 25% saham di pabrik tersebut karena mitra Tiongkoknya, Tsingshan, yang sedang membangun pabrik, bersedia untuk menjual sebagian dari 45% kepemilikan sahamnya.
Kelebihan pasokan saat ini telah menurunkan harga nikel sebesar 45% di tahun lalu, menekan produsen biaya tinggi, termasuk penambang global teratas BHP dan yang lainnya di Australia, yang telah meminta kategori "premier hijau" untuk nikel rendah karbon.
Bursa Logam London (LME) mengklasifikasikan 20 ton dioksida karbon (CO2) per ton nikel sebagai ambang batas untuk nikel rendah karbon, dan pabrik HPAL Nickel Industries akan memproduksi satu ton nikel dengan kandungan maksimal sekitar delapan ton CO2.
"Kami akan senang mendapatkan premi hijau dan kami lebih dari yakin bahwa kami akan memenuhi syarat," kata Werner. Sayangnya kata Werner, produsen otomotif dan baterai tidak ingin membayar sertifikasi premi hijau. "Mereka maunya dengan diskon," katanya.
Dalam kesempatan berbeda miliarder pertambangan Australia, Andrew Forrest mengatakan pada bulan lalu bahwa LME harus mengklasifikasikan kontraknya menjadi bersih dan kotor untuk memberi pelanggan lebih banyak pilihan. Perusahaan miliknya, Wyloo, akan menutup tambang nikel yang dibelinya seharga US$ 504 juta tahun lalu.

