Ungkit "Dosa" Lama, Prabowo Sebut IMF Nggak Cinta Indonesia, Apa Maksudnya?
JAKARTA, investortrust.id – Calon presiden (capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto mengungkit kembali “dosa” Dana Moneter Internasional (IMF) di bidang pangan. Lembaga keuangan multilateral itu dianggap bertanggung jawab terhadap rapuhnya ketahanan pangan Indonesia di masa silam.
“Pengelolaan yang sudah baik di zaman Pak Harto (Presiden Soeharto) kenapa dibongkar? Yang bener waktu itu, Bulog melaksanakan operasi pengendalian. Kalau harga pangan merugikan petani di dalam negeri, maka Bulog kendalikan, tapi konsumen juga dijaga,” papar Prabowo dalam Dialog Capres Bersama Kadin, di Jakarta, Jumat (12/01/2024).
Baca Juga
Prabowo Jelaskan Alasan Mengapa Gen Z dan Milenial Indonesia Emoh Jadi Petani
Menurut Prabowo, pada era krisis moneter 1997-1998, IMF mengulurkan bantuan kepada Indonesia. Lewat berbagai letter of intent (LoI), Indonesia menjalankan sejumlah kebijakan yang diminta lembaga internasional tersebut, termasuk di bidang pangan. Pada era itu pula, kewenangan Bulog sebagai stabilisator harga pangan di dalam negeri dipreteli.
“Waktu itu kita ‘menyerah’ kepada IMF karena kita percaya bahwa mereka cinta kepada kita. Padahal, tidak ada rasa cinta itu, yang ada adalah kepentingan mereka. Kalau kita ambruk, tidak ada urusan bagi mereka,” tegas dia.
Baca Juga
Prabowo menggarisbawahi bahwa kritiknya kepada lembaga kreditur internasional, seperti IMF, tak berarti dirinya anti-Barat. “Saya bukan anti-Barat. Saya sebetulnya sangat cinta sama Barat. Buktinya, aku suka, aku suka makan Burger King, aku suka. Masalahnya, Barat kadang-kadang tidak cinta kepada kita. Ya kan!?” tandas dia.

