Pajak Barang Mewah Sudah Tidak Relevan di Kendaraan, Ini Kata Pengamat
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat otomotif, Bebin Djuana mengusulkan penghapusan atau pengurangan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebagai insentif fiskal untuk mobil hybrid dan listrik. Menurutnya, pemerintah harus fokus menghapuskan aspek kemewahan dalam pemajakan kendaraan, kecuali untuk kendaraan premium.
Ia menegaskan bahwa PPnBM sudah tak relevan dan lebih baik fokus pada kebutuhan masyarakat serta kepedulian terhadap emisi dan konsumsi bahan bakar.
“Jadi, saya kira itu (PPnBM) sudah tidak relevan lagi. Tetapi perlu diketahui, hybrid-kan masih mengusung IC engine, tidak seperti BEV. Jadi, dibedakan dari situ saja, agar kita ini seperti negara-negara maju yang lain. Bahwasanya kita peduli mengenai emisi dan pengurangan pemakaian minyak bumi,” ujar Bebin Djuana di acara seminar bertema “Potensi Besar dan Kebutuhan Insentif Mobil Hybrid” diselenggarakan media daring investortrust.id, di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Rabu (29/11/2023).
Terkait selisih pajak yang ideal, ia menyarankan sekitar 5-10%. Hal ini disebabkan oleh perbedaan teknologi baterai hybrid yang masih lebih kecil dibandingkan baterai mobil listrik (BEV). Menurutnya, harga yang tinggi sebelum pajak sudah menjadi beban besar bagi konsumen.
Baca Juga
Soal Investasi Suku Cadang Mobil Hybrid, PT Astra Otoparts Akui Masih Perlu Berhitung
“Menurut saya sekitar 5 sampai 10%, karena baterai hybrid itu lebih kecil daripada baterainya BEV dan kita tahu baterai sampai dengan detik ini adalah barang mahal. Artinya, produk itu saja sebelum ditambah dengan pajak berlapis sudah mahal, jadi kalau ditambah lagi (pajak) it’s too expensive untuk konsumen Indonesia,” jelas Bebin Djuana kepada investortrust.id.
Bebin juga menyatakan, ketika Indonesia berhasil memproduksi baterai mobil listrik, hal ini dapat menurunkan harga kendaraan tersebut. Namun, efisiensi produksi baterai dan kualitas bahan mentah menjadi faktor kunci dalam menentukan penurunan harga.
“Sudah pasti, kalau baterai sudah bisa kita buat itu akan menolong harga kendaraan. Terkait harga kembali lagi ini urusannya ada satu industri lagi (diluar otomotifnya), yaitu industri baterainya sendiri, seberapa efisien produknya (efisiensi produk/baterai),” kata Bebin.
Baca Juga
APPI Yakin Insentif PPnBM Akan Dorong Penjualan Mobil Hybrid
Dia mencontohkan mobil listrik Hyundai Ioniq yang saat ini dijual sekitar Rp800 juta,jika produksi baterainya dilokalkan, maka harganya bisa turun menjadi Rp700 juta, bahkan hingga di bawah Rp500 juta, sehingga masyarakat lebih tertarik untuk beralih ke kendaraan listrik.
“Paling tidak harapan kita bisa hemat Rp100 juta, misal pada saat yang sama pajaknya ditinjau kembali bisa saja yang Rp800 juta turun ke Rp700 juta dan kalau bisa dibawah Rp500 juta. Akhirnya, everybody happy, apalagi masyarakat sudah pintar ada inisiatif untuk berpindah ke kendaraan listrik,” ungkap Bebin.
Bebin juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait kendaraan ramah lingkungan. Dia mempertanyakan mengenai subsidi bahan bakar, kendaraan ramah lingkungan, serta kebijakan green car. Ia menegaskan pentingnya penghapusan pajak barang mewah untuk mendukung penetapan harga yang lebih ramah konsumen.
Baca Juga
Dorong Industri Komponen Otomotif Hybrid, Insentif Pemerintah Dibutuhkan
“Pemerintah memang butuh pajak, tetapi kalau kendaraan listrik atau hybrid ini sudah banyak di jalan, bagaimana subsidi bensin kalau sudah banyak pemakai kendaraan listrik? Bagaimana pula dengan LCGC, apakah masih ada? Hanya di awal saja toh? Bagaimana dengan green car? Kalau dibilang green tidak juga, karena pemilihan bahan bakar (pertalite) yang tidak green,” pungkas Bebin Djuana.
Mengenai roadmap pemerintah terkait jumlah mobil hybrid dan listrik, Bebin menilai peningkatan penggunaan Hybrid Electric Vehicles (HEV) masih terbilang sedikit, sementara Battery Electric Vehicles (BEV) memerlukan investasi besar. Namun, Bebin optimistis untuk pengurangan konsumsi bahan bakar fosil dengan peningkatan penggunaan HEV. Dia juga menambahkan, untuk proyeksi penggunaan mobil listrik tahun ini sudah meningkat 43%.
“Kalau BEV menurut saya tidak terlalu giat, karena harus ada SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dan itu investasinya besar. Kalau HEV masih terbilang kecil karena masih pakai IC engine, yang penting konsumsi minyak (bensin/fossil fuel) diturunkan. Saya pikir proyeksi penggunaan mobil HEV untuk tahun ini sudah naik 43%,” tutup Bebin Djuana. (CR-3)

