Permintaan Jaringan 5G Rendah, Kemenkominfo Beberkan Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) angkat bicara terkait dengan lambatnya penetrasi 5G di Tanah Air yang tidak hanya diakibatkan oleh minimnya ketersediaan spektrum atau pita frekuensi.
Seperti diketahui, hingga saat ini pemerintah masih belum melelang pita frekuensi yang disiapkan untuk layanan seluler 5G ke operator seluler. Pita frekuensi yang dimaksud adalah 700 MHz (megahertz) dan 2,6 GHz (gigahertz).
Pita frekuensi 700 MHz merupakan pita frekuensi yang sebelumnya digunakan oleh lembaga penyiaran untuk siaran televisi analog. Setelah analog switch off (ASO) rampung tahun lalu, praktis pita frekuensi tersebut tidak digunakan sampai saat ini.
Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi mengatakan penetrasi layanan seluler 5G di Indonesia lambat lantaran permintaan pasar akan layanan tersebut masih rendah. Menurutnya, masyarakat sejauh ini sudah puas dengan kecepatan internet layanan seluler 4G.
Baca Juga
Pemerintah Akui Sulit Atur Penggunaan Frekuensi untuk Jaringan 5G
"[Layanan seluler] 5G ini basisnya adalah demand, lihat market-nya dulu, kebutuhannya bagaimana. Masih terbatas yang butuh [layanan seluler] 5G. Karena itu bukan soal kecepatan saja, tetapi demand-nya apakah membutuhkan kecepatan itu atau tidak," katanya di sela-sela kegiatan The 10th Asia Pacific Spectrum Management Conference pada Selasa (23/4/2024) di Pullman Hotel, Jakarta Pusat.
Asal tahu saja, kecepatan internet yang ditawarkan jaringan 5G 10 kali lebih cepat daripada 4G dengan rerata nyaris 500 Mbps (megabit per detik). Sementara itu, rerata kecepatan internet yang ditawarkan oleh jaringan 4G tak lebih dari 30 Mbps.
Adapun, untuk kecepatan internet maksimalnya jaringan 4G memiliki kecepatan maksimum mencapai 100 Mbps, sementara 5G berhasil mencapai 10 Gbps.
"Sekarang kan [masyarakat] sudah merasa kecepatan internetnya cepat. Di Jakarta dapat 100 Mbps itu sudah pada happy sekali," ujar Budi Arie.
Baca Juga
Mei-Juni 2024, Pemerintah Mau Lelang Frekuensi untuk Jaringan 5G
Walaupun demikian, Budi Arie sadar bahwa kecepatan internet di Indonesia masih perlu ditingkatkan lantaran jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia. Saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pengentasan wilayah tanpa akses internet atau blank spot.
Masih banyaknya blank spot di Indonesia menurut Budi Arie tidak terlepas dari kondisi geografis. Oleh karena itu, dia menilai tak elok jika kualitas layanan internet, termasuk kecepatan internet di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.
"Perbandingannya itu enggak apple to apple. Kalau kita bandingkan dengan negara kota misalnya itu beda. Di Asia, kita ini negara besar yang memang punya tantangan geografis, tetapi kita sebagai regulator ini berkepentingan untuk mengupayakan peningkatan speed internet kita," tegasnya.

