GIMNI Rekomendasikan Proses Produksi Minyak Sawit Rendah Emisi dan Rendah 'Fatty Acid'
JAKARTA, Investortrust.id - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyarankan agar dikembangkan proses pembuatan minyak sawit yang jauh lebih higienis dengan meninggalkan skema wet process, dan digantikan dengan proses dry process yang menggunakan enzim. Dengan skema ini maka proses produksi minyak sawit atau crude palm oil akan menghasilkan tingkat emisi karbon yang rendah, hingga kandungan gizi yang tak banyak menguap.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di tengah sesi Focus Group Discussion mengenai masa depan hilirisasi sawit di Kementerian Perindustrian yang digelar Investortrust.id baru-baru ini, (20/6/2024).
“Inilah yang saya usulkan kepada pemerintah dan juga kepada Pak Eddi (Kepala BPDPKS, red). Biarkanlah petani itu kerja sendiri punya pabrik sendiri, namanya PaMER bukan PKS. Pamer artinya pakai dry proccess, bukan seperti yang selama ini pakai wet process. Pamer itu adalah Pabrik Minyak Sawit Emisi Karbon Rendah. Ini harus kita propose,” kata Sahat.
Baca Juga
Ini Saran dari Gapki agar Industri Hilirisasi Sawit Lebih Bergairah
Menurut Sahat, proses produksi minyak sawit dengan kadar emisi karbon yang rendah ini bisa dimulai di level petani yang memiliki pabrik pengolahan skala kecil. Kapasitasnya pun tak perlu besar, bisa di kisaran 10 ton dan maksimum 20 ton produksi dari tandan buah segar (TBS).
Lewat proses produksi kering ini, nantinya produk hilir minyak sawit yang dihasilkan bukan lagi bernama Crude Palm Oil (CPO), tapi DPMO (Degummed Palm Mesocarp Oil).
DPMO atau Degummed Palm Mesocarp Oil adalah minyak yang diperoleh dari mesokarp atau daging buah kelapa sawit yang telah melalui proses penghilangan getah (degumming). Proses degumming dilakukan untuk menghilangkan fosfolipid dan zat-zat pengotor lain yang dapat menyebabkan minyak menjadi keruh atau tidak stabil selama penyimpanan. Hasil akhirnya adalah minyak yang lebih jernih dan stabil, yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi industri, termasuk pangan, kosmetik, dan produk perawatan pribadi.
Dalam kesempatan yang sama Sahat juga merekomendasikan sebuah skema produksi yang dinamakan dengan istilah Dear Techno. Istilah ini merupakan kependekan dari Deacidification Refining Technology yang merupakan proses pengolahan yang bertujuan untuk mengurangi kandungan asam lemak bebas (free fatty acids atau FFA) dalam minyak kelapa sawit.
Baca Juga
Penggunaan temperatur dalam pengolahan di skema Dear Tehcno juga tak harus mencapai 265 derajat celcius seperti yang diterapkan pada skema produksi wet process. “Cuma 55 derajat celcius, dia enggak pakai physical refining, tapi menggunakan enzyme,” ujar Sahat. Hasilnya, lanjut Sahat, maka produk minyak sawit yang dihasilkan bisa menekan tingkat asam lemak bebas atau FFA dari 10% menjadi hanya 1%.
“Dengan enzim kita bisa menurunkan free Fatty acid dari 10% ke 1%,” tandasnya.
Dengan demikian, maka produk minyak sawit tak lagi dianggap sebagai penyumbang emisi karbon yang tinggi, dan mampu menepis tuduhan sebagai biang keladi pendorong kandungan asam lemak bebas di dalam tubuh. Produk hilir sawit pun berikutnya bisa dikenal sebagai produk makanan dengan tingkat kandungan gizi yang tinggi.

