Terkait Mobil Listrik, Galau Prioritas Bangun Charging Station atau Produk?
JAKARTA, Investortrust.id – Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Rachmat Kaimuddin mengungkapkan trilema industri kendaraan listrik di Tanah Air.
Padahal, peralihan kendaraan bahan bakar ke listrik merupakan satu dari bebera agenda untuk menekan emisi. Kendala utama pengembangan mobil listrik di Indonesia adalah infrastruktur, yakni mengisi kekosongan produk electric vehicle (EV).
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Bertambah, Tantangan Astra International (ASII) Bertambah
"Saat ini, infrastruktur agak tungguan-tungguan mau bikin charger (charging station) dulu atau atau mau bikin barang dulu? Poduknya dulu," ucap Rachmat saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (15/12/2023).
Namun berdasarkan pengalaman penyelenggaraan G20 beberapa waktu lalu, dia mengatakan, infrastruktur untuk kendaraan listrik dapat dilakukan dengan cepat, karena listrik di pulau Jawa melimpah.
"Jadi infrastruktur akan diliat bagaimana caranya kita bisa dipercepat, baik infrastruktur charging sataion, bagaimana juga standaridasi baterai dan dan lain-lain," terangnya.
Selain infrastruktur, dia mengatakan, kendala kendaraan listrik lainnya adalah daya beli masyarakat. Pasalnya, harga kendaraan listrik masih mahal di Indonesia, dibandingkan kendaraan dengan bahan bakar.
Baca Juga
Pemerintah Dukung Habis Mobil Listrik, Bagaimana dengan Mobil Hibrida?
"Harga mobil listrik sekarang memang tidak semahal dulu, tapi masih tetap lebih mahal. Tapi kalau dilihat dari aspek total cost of ownership belum tentu mahal, karena maintenance lebih murah," ungkap Rachmat.
"Setidaknya dari sisi bahan bakar atau fuel sendiri lebih murah. Tapi tidak semua orang bisa melihat aspek tersebut," terangnya. (CR-9)

