Indef Prediksi Harga Batu Bara US$ 110-130 per Ton di 2024, Ini Faktor yang Mempengaruhi
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi harga batu bara akan berada di kisaran US$ 110–130 per ton pada tahun 2024.
“2024 ini the calm ya, setelah peak. Masih stabil ya, jadi saya prediksi harganya masih di sekitar 110–130(US$ per ton). Tidak di bawah 100 ya,” ujar Direktur Riset Indef, Berly Martawardaya dalam Webinar Road to IMEC 2023 dengan tema "Harga Batubara Kembali Membara, Bagaimana Prediksi di Tahun 2024?"melalui Zoom Meeting,Selasa (12/12/2023).
Dalam paparannya, Berly menyebutkan bahwa saat ini peak price atau harga puncak batu bara sudah terlewati.
“Kenaikan pasca site plan itu jauh dibandingkan kenaikan daripada pandemi. Sangat jauh hampir 300-an ya, site plan itu naik hampir 32%. Nah tapi diujung ini ada naik turun ya. Jadi ada calm sedikit di ujung itu setelah Gaza. Jadi kaitannya cukup kuat,” tuturnya.
Baca Juga
Mantap! Produksi Batu Bara RI Tembus 718 Juta Ton Lampaui Target 2023
Prediksi harga batu bara di tahun 2024 yang disampaikan Berly tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah adanya konflik geopolitik yang ada di Ukraina.
“Ya saat ini sudah memasuki post peak dari cycle ya jadi peak-nya lama tapi jadi lebih cepat gara-gara kombinasi dengan tensi-tensi geopolitik di Ukraina,” ungkap Berly.
Selain konflik geopolitik, juga terdapat beberapa faktor lain seperti adanya penurunan demand walau produksi yang meningkat.
“Ya saat ini ada di posisi dimana produksi meningkat namun demand menurun. Tapi penned up demand-nya sudah lewat ya peak-nya 2023 ini, walaupun dengan movement out of China juga membutuhkan energi, jadi turunnya tidak jauh,” paparnya.
Baca Juga
BPS Ingatkan Risiko Penurunan Harga Komoditas CPO, Batu Bara, dan Nikel
Walaupun China dan India pada 3 tahun terakhir menjadi negara tertinggi dalam konsumsi batubara, Berly memperkirakan di tahun 2024 akan ada penurunan konsumsi oleh negara tersebut.
“EU, China, dan India ya konsumsinya sudah peak, jadi akan decline. Jadi walaupun decline-nya sedikit ya, tapi peak-nya ada di tahun 2023 untuk konsumsinya. Jadi ini perlu diwaspadai,” pungkasnya.
Adanya transisi ke renewable energy (energi terbarukan) juga turut mempengaruhi harga batubara, khususnya production act oleh Amerika yang mengusung green energy. Namun, Berly memprediksi bahwa penggunaan green energy baru akan dilakukan oleh Amerika pasca pemilu berlangsung, yaitu di tahun 2025. Sehingga, demand batubara pasti masih akan tinggi di tahun 2024. (CR-4)

