Harga Minyak Dunia Menuju Penurunan Mingguan Terdalam Sejak Pandemi Covid-19
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menuju penurunan mingguan tajam setelah hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) meningkatkan harapan de-eskalasi perang AS-Israel di Iran. Namun, serangan terhadap kapal-kapal di Timur Tengah masih menahan pelemahan harga karena pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan dari kawasan tersebut.
Kontrak minyak mentah Brent berpotensi mencatat penurunan mingguan hingga 16%, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat diperkirakan turun lebih dari 13%.
Dilansir RTI, setelah sempat naik pada awal perdagangan yang berlangsung fluktuatif, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Januari turun 74 sen atau 0,8% menjadi US$ 97,55 per barel pada Jumat (6/11/2026) pagi. Harga WTI juga turun 73 sen atau 0,8% menjadi US$ 89,79 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun, Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Penurunan tersebut menempatkan Brent di jalur koreksi mingguan terdalam sejak awal pandemi Covid-19. Berdasarkan data LSEG, pelemahan dalam nilai absolut juga berpotensi menjadi yang terbesar sejak pencatatan data dimulai pada 1988.
Tekanan terhadap pasar minyak muncul bersamaan dengan anjloknya saham-saham teknologi. Sentimen pasar berubah setelah Partai Demokrat menyapu bersih pemilihan paruh waktu AS, yang meningkatkan harapan bahwa arah politik Washington dapat mendorong penurunan ketegangan dalam perang yang melibatkan Iran.
Harapan De-eskalasi Tekan Harga
Potensi meredanya konflik di Iran membuka kemungkinan peningkatan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut. Pasar juga mulai melihat tanda-tanda kelebihan pasokan, yang diperkuat oleh premi harga minyak mentah Timur Tengah di pasar spot yang kembali ke level sebelum konflik.
Harga minyak bahkan sempat merosot 8% pada Rabu (4/11/2026) setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS. Brent dan WTI kemudian menetap di level terendah dalam dua bulan.
Baca Juga
Dibayangi Serangan Kapal Tanker dan Ketidakpastian Perang Iran, Minyak Brent Melonjak 4%
Namun, pelemahan harga tidak berlangsung tanpa hambatan. Harga minyak kembali menguat setelah serangan terhadap kapal tanker di Teluk dan Selat Hormuz meningkat, memunculkan kembali kekhawatiran pasar terhadap kelancaran arus pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Data badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), menunjukkan serangan terhadap kapal pengangkut minyak masih berlangsung dengan kecepatan yang mendekati rekor tertinggi.
Situasi itu membuat pasar minyak berada di antara dua kekuatan yang berlawanan. Harapan de-eskalasi konflik berpotensi menambah pasokan minyak ke pasar global, sementara meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran Timur Tengah terus menjaga kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak.
