BRIN Tekankan Tata Kelola Mineral Kritis, Jangan Sampai Kekayaan Alam Tak Beri Nilai Tambah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pengembangan mineral kritis dan mineral strategis Indonesia membutuhkan tata kelola yang transparan dan akuntabel agar kekayaan sumber daya alam (SDA) dapat memberikan nilai tambah optimal bagi perekonomian.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, mengatakan penguatan hilirisasi juga perlu dibarengi perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, keselamatan kerja, serta kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.
"Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam luar biasa, terutama mineral kritis, ini betul-betul menjadi satu modal yang sangat penting. Namun, ketika kita melihat bagaimana negara-negara maju tidak hanya semata-mata memanfaatkan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga mampu untuk memberikan nilai tambah sekaligus digunakan sebesar-besarnya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat," ujar Nunung dalam Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga
Dia menjelaskan, pemerintah telah memiliki landasan kebijakan melalui penetapan 47 jenis komoditas mineral kritis dan 22 jenis komoditas mineral strategis pada 2026. Penetapan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan strategi pengelolaan yang mampu mengoptimalkan potensi komoditas tersebut sebagai keunggulan pembangunan nasional.
Menurut Nunung, pengembangan mineral kritis dan strategis harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi dan hilirisasi nasional. Selain meningkatkan nilai tambah ekonomi, pengembangan sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan tata kelola yang baik serta skema pembiayaan yang tepat.
"Bagaimana keseluruhan tata kelola itu dibangun atas dasar prinsip yang transparan dan akuntabel, dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan, aspek-aspek sosial, keselamatan kerja, dan tentunya yang tidak kalah pentingnya adalah kepentingan-kepentingan masyarakat yang ada di sekitar wilayah pengelolaan mineral kritis dan mineral strategis yang ada di Indonesia," sebut Nunung.
Dia menambahkan, penerapan prinsip tata kelola tersebut juga berperan penting dalam meminimalkan risiko dan meningkatkan kepastian investasi. Dengan demikian, pengembangan industri mineral kritis tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memperkuat daya saing industri nasional secara berkelanjutan.
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, BRIN Ungkap Limbah Sawit RI Bisa Hasilkan Listrik 3,9 GW
Dalam mendukung agenda tersebut, BRIN turut mengambil peran melalui pengembangan riset dan teknologi pengolahan mineral. Salah satu fokusnya adalah pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang (LTJ) yang dilakukan secara bertahap, mulai skala laboratorium hingga tahap percontohan atau piloting. Riset ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, termasuk Badan Industri Mineral, PT Timah, serta sejumlah perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
“Tentu dengan kolaborasi ini kami berharap berbagai pengembangan teknologi pengolahan LTJ yang sesuai dengan karakteristik sumber daya mineral Indonesia, dan tentunya kita berharap sekaligus untuk memandirikan kemampuan anak-anak bangsa di dalam penguasaan teknologi-teknologi dan ini akan menjadi landasan ke depan di dalam pengembangan berbagai mineral strategis sekaligus mineral kritis,” ucap Nunung.
