Merdeka Copper (MDKA) Catat Penjualan Rp 14,8 Triliun, Produksi Nikel Cetak Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral, membukukan penjualan produk sebesar US$ 817,3 juta atau sekitar Rp 14,81 triliun sepanjang kuartal III 2026. Kinerja tersebut ditopang rekor produksi bijih nikel di Sulawesi, pertumbuhan produksi emas Tambang Emas Pani, serta peningkatan kontribusi bisnis hilirisasi.
Penjualan tersebut mencakup berbagai komoditas, dengan produk nikel berupa Nickel Pig Iron (NPI), bijih limonit, dan High Grade Nickel Matte (HGNM) sebagai kontributor terbesar. Sementara itu, bisnis emas menyumbang penjualan US$ 72,9 juta atau sekitar Rp 1,32 triliun dengan total produksi dari Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons.
Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk Albert Saputro mengatakan kinerja kuartal III 2026 mencerminkan penguatan portofolio bisnis perusahaan, baik dari operasi yang sudah berjalan maupun proyek pengembangan.
Baca Juga
Reliance Sekuritas Jagokan 4 Saham Hari Ini, Ada BBNI hingga MDKA
“Kuartal ketiga ini mencerminkan semakin solidnya portofolio perseroan. Operasi nikel kami terus berkembang, Tambang Emas Pani kembali mencetak pertumbuhan produksi kuartalan yang kuat, dan bisnis hilirisasi kami mulai memberikan kontribusi dari rentang produk yang lebih luas. Pada saat yang sama, kami terus memajukan berbagai proyek yang akan membentuk fase pertumbuhan MDKA selanjutnya, dengan tetap mempertahankan fokus yang disiplin pada keandalan operasi dan alokasi modal,” ujar Albert dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).
Dari sektor emas, Tambang Emas Pani mencatatkan produksi 26.331 ons sepanjang kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat 69% dibandingkan kuartal sebelumnya seiring peningkatan kapasitas operasi pelindian tumpukan atau heap-leach. Metode heap-leach merupakan teknik pengolahan bijih dengan menumpuk material tambang di atas lapisan khusus, kemudian mengalirkan larutan kimia untuk memisahkan kandungan emas dari batuan.
Sementara itu, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 23.811 ons emas pada periode yang sama. Operasi tambang tersebut juga melanjutkan kegiatan eksplorasi dan optimalisasi untuk memperpanjang umur produksi.
Hasil eksplorasi di Tujuh Bukit telah mendukung perpanjangan umur tambang setidaknya hingga 2033. Perkembangan tersebut memberikan ruang bagi MDKA untuk mempertahankan kontribusi bisnis emas dalam jangka panjang.
Selain mengoptimalkan fasilitas yang sudah beroperasi, MDKA juga mempercepat pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) Tahap 1 di Tambang Emas Pani. Fasilitas ini menggunakan proses pelindian dengan bantuan karbon aktif untuk menangkap emas dari larutan hasil pengolahan bijih.
Perseroan telah menyelesaikan desain rekayasa dasar fasilitas tersebut dan memajukan desain rinci. MDKA juga telah mengamankan sejumlah peralatan utama yang membutuhkan waktu pemesanan panjang serta mulai memobilisasi kontraktor konstruksi.
Penyelesaian sisa area landasan atau pad CIL ditargetkan pada akhir Desember 2026. Fasilitas CIL Tahap 1 dirancang memiliki kapasitas pengolahan terpasang 12 juta ton per tahun atau million tonnes per annum (Mtpa), dengan kapasitas tambahan sekitar 20% sehingga dapat mencapai 14,4 juta ton per tahun.
MDKA juga merencanakan pembangunan fasilitas CIL Tahap 2 dengan skala sebanding. Jika pembangunan dan pengujian kedua fasilitas berjalan sesuai rencana, kapasitas produksi emas gabungan ditargetkan meningkat dari sekitar 250.000-350.000 ons per tahun pada Tahap 1 menjadi 500.000-700.000 ons per tahun.
Produksi Bijih Nikel Sulawesi Cetak Rekor
Di sektor nikel, portofolio MDKA di Sulawesi mencatatkan rekor produksi bijih nikel kuartalan tertinggi. Produksi bijih saprolit meningkat 68% secara tahunan menjadi 3,3 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan produksi bijih limonit naik 62% menjadi 9 juta wmt. Di sisi produk olahan, produksi NPI mencapai 20.553 ton kandungan nikel, sedangkan HGNM mencapai 9.436 ton sepanjang kuartal III 2026.
Ketiga produk tersebut, yakni NPI, limonit, dan HGNM, menjadi kontributor terbesar penjualan MDKA. Capaian produksi bijih nikel tersebut juga memperlihatkan peningkatan aktivitas operasional di wilayah tambang Sulawesi.
Selain mengandalkan penjualan produk nikel, MDKA terus memperkuat integrasi bisnis melalui fasilitas AIM. Operasi tersebut menghasilkan dan menjual sekitar 290.000 ton asam sulfat selama kuartal III 2026, dengan nilai penjualan mencapai US$ 98,4 juta atau sekitar Rp 1,78 triliun.
Kinerja penjualan asam sulfat didukung harga jual aktual yang menguntungkan dan stabilitas operasi pada 2 lini pabrik asam sulfat. Kondisi harga yang lebih kuat juga diperkirakan mendukung peningkatan margin bisnis tersebut.
Fasilitas AIM memiliki peran dalam rantai pasok industri hilir nikel karena memasok asam sulfat untuk mendukung operasi High Pressure Acid Leach (HPAL) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri pengolahan nikel di Sulawesi Tengah.
Sementara itu, operasi tembaga MDKA di Wetar menghasilkan 1.265 ton tembaga selama kuartal III 2026. Perusahaan melanjutkan optimalisasi pengolahan material hasil pelindian melalui metode refluffing atau penggemburan ulang tumpukan bijih dan bioleaching, yakni pemanfaatan mikroorganisme untuk membantu proses pemulihan logam. Proses bioleaching berhasil memulihkan 35 ton tembaga selama kuartal tersebut. MDKA juga melanjutkan optimalisasi untuk meningkatkan tingkat ekstraksi tembaga dari material yang tersedia.
Proyek Tembaga dan Emas Masuki Tahap Pengembangan
Di luar kegiatan operasional, MDKA terus memajukan sejumlah proyek strategis untuk memperbesar kapasitas produksi pada masa mendatang. Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah melewati tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS). Perseroan melanjutkan pekerjaan optimalisasi dengan mengintegrasikan pengembangan tambang bawah tanah dan potensi tambang terbuka ke dalam rencana pengembangan tambang yang lebih luas. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi MDKA untuk mengoptimalkan potensi sumber daya tembaga di Tujuh Bukit.
Baca Juga
Merdeka Copper (MDKA) Borong Saham EMAS Senilai Rp 657,60 Miliar, Intip Harganya
Di Tambang Emas Pani, pembangunan fasilitas CIL Tahap 1 menjadi salah satu agenda utama perusahaan. Selain menyelesaikan desain dan mengamankan peralatan utama, MDKA juga mulai memobilisasi kontraktor untuk mempercepat pekerjaan konstruksi. Rencana pembangunan fasilitas CIL kedua dengan kapasitas sebanding akan meningkatkan kemampuan pengolahan bijih dan membuka ruang peningkatan produksi emas secara bertahap.
Dengan target kapasitas gabungan mencapai 500.000-700.000 ons emas per tahun setelah kedua fasilitas beroperasi sesuai rencana, Pani diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi emas utama dalam portofolio MDKA.
Dalam menjalankan kegiatan operasional dan proyek pengembangan, perusahaan tetap menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kinerja. Faktor tersebut mencakup fluktuasi harga komoditas, biaya bahan bakar dan energi, pergerakan nilai tukar, kondisi cuaca, serta perubahan kebijakan dan regulasi.
