Telkom (TLKM) Bidik Peluang Industri AI Global, Siapkan Infrastruktur Pusat Data Berkapasitas 1 Gigawatt
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memperkuat infrastruktur dan ekosistem digital untuk menangkap peluang pertumbuhan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di masa depan. Perseroan menempatkan konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta pengembangan platform AI sebagai fondasi untuk mendorong kemandirian teknologi digital Indonesia sekaligus bersaing di pasar global.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, peluang bisnis AI tidak hanya berasal dari penjualan teknologi, tetapi juga dari penyediaan infrastruktur yang menopang penggunaan AI secara luas. Hal ini seiring dengan penurunan biaya penggunaan AI yang berpotensi mendorong peningkatan konsumsi dan kebutuhan terhadap kapasitas komputasi.
Dalam plenary session Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Nanang mengungkapkan bahwa sejak 2022 biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali. Sementara itu, penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun.
Baca Juga
Hadapi Ancaman Komputasi Kuantum, Telkom, Danantara, BSSN, dan Peruri Siapkan Ekosistem Digital
“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas,” ujar Nanang dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Meski prospek industri AI menjanjikan, Nanang menilai penciptaan nilai ekonomi dari teknologi tersebut masih menghadapi tantangan. Pasalnya, 95% proyek percontohan (pilot) AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan. Bahkan, hanya 25% perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) sesuai harapan.
Selain itu, baru 21% perusahaan yang mendesain ulang proses kerjanya untuk mengintegrasikan AI. Karena itu, adopsi teknologi perlu diikuti penyesuaian proses bisnis, permintaan pasar, biaya yang terjangkau, pengembangan ekosistem mitra, serta kepastian standar dan regulasi.
Siapkan Lima Industri AI Masa Depan
Berdasarkan analisis potensi pembentukan industri global, terdapat lima bidang yang dinilai berpeluang menjadi industri masa depan. Kelimanya meliputi konektivitas terintegrasi darat, laut, udara, dan edge AI; pusat data AI berskala besar; infrastruktur kepercayaan digital; ekonomi berbasis agen AI (agentic economy); serta layanan otonom berbasis AI (Autonomous-as-a-Service) untuk sektor industri dan pemerintahan.
Dari lima bidang tersebut, konektivitas terintegrasi dan pusat data AI merupakan kapabilitas inti Telkom. Sementara itu, tiga bidang lainnya menjadi area potensial untuk dikembangkan lebih lanjut.
Untuk mendukung pengembangan industri tersebut, Telkom telah memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence/PoPs).
Di sektor pusat data, melalui NeutraDC, Telkom mengoperasikan kapasitas sebesar 48,4 MW per kuartal III-2026 di Indonesia dan Asia Tenggara. Perseroan juga memiliki aspirasi ekspansi kapasitas hingga 1 gigawatt.
Pengembangan pusat data berskala besar tersebut membutuhkan dukungan ketersediaan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.
Sementara itu, melalui Model Hub, Telkom menyediakan akses dan tata kelola berbagai model AI, baik model global, berdaulat, maupun yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu. Platform tersebut juga mendukung pengembangan aplikasi serta berbagai kasus penggunaan AI.
Perkuat Sovereign Digital Technology
Keseriusan TelkomGroup dalam membangun ekosistem digital nasional juga diwujudkan melalui peluncuran inisiatif pengembangan Sovereign Digital Technology pada hari pertama DTIIF 2026.
Inisiatif tersebut mencakup empat kapabilitas strategis, yakni AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera. Keempatnya mengintegrasikan infrastruktur komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Nanang menjelaskan, Telkom membangun tiga fondasi utama untuk mendukung perkembangan industri AI, yakni konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, serta gerbang model AI dan pengembangan aplikasi.
Konektivitas berfungsi menghubungkan pengguna, pusat data menyediakan kapasitas komputasi, sedangkan ModelHub menghadirkan akses dan tata kelola model AI untuk berbagai kebutuhan pelanggan.
Baca Juga
TelkomGroup Luncurkan 4 Teknologi Digital, Bidik Kemandirian AI hingga Perluasan Pasar UMKM
Menurut Nanang, pengembangan industri AI juga membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan telekomunikasi, pengembang teknologi, startup, talenta digital, hingga UMKM. Pemerintah berperan dalam menetapkan regulasi, termasuk terkait kedaulatan data dan identitas agen AI. Sementara itu, pelaku infrastruktur digital menyediakan konektivitas dan komputasi, sedangkan pengembang menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar.
Nanang juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang atau patient capital untuk membangun fondasi industri yang membutuhkan waktu sebelum menghasilkan keuntungan. Investasi tersebut perlu didukung ketersediaan energi, kepastian perizinan dan regulasi, serta penciptaan permintaan awal.
“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Indonesia memiliki kebutuhan dan infrastruktur digital sebagai modal awal. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kapabilitas, membangun kolaborasi, dan mengembangkan industri yang mampu bersaing di tingkat global,” tutup Nanang.
