Tambang Tak Selamanya Beroperasi, Warga Harus Siap Mandiri
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mendorong perusahaan tambang menyiapkan masa depan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya sejak awal kegiatan pertambangan, jauh sebelum cadangan mineral habis dan operasi berakhir, termasuk pada komoditas timah. Persiapan tersebut diperlukan agar masyarakat tetap memiliki pekerjaan dan sumber pendapatan ketika aktivitas tambang berhenti.
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhapi Muhammad Toha menilai ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat memicu persoalan sosial ketika perusahaan mengakhiri operasinya. "Risiko tersebut terutama muncul di daerah yang sebagian besar kegiatan ekonominya bergantung pada keberadaan perusahaan tambang," kata dia saat dihubungi Investortrust.id, Jumat (30/10/2206).
Baca Juga
Bahlil Soroti Penyaluran BBM Subsidi Tak Tepat Sasaran, Kendaraan Tambang Masih Ikut Antre
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa kota-kota yang tumbuh karena pertambangan dapat menghadapi tekanan ekonomi setelah kegiatan penambangan berhenti. Hilangnya aktivitas utama perusahaan berpotensi mengurangi kesempatan kerja serta mengganggu kegiatan usaha masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas tambang.
Toha mengatakan, kondisi tersebut membuat perencanaan pascatambang menjadi bagian penting dalam pengelolaan industri mineral. Perusahaan tidak cukup hanya menyiapkan pemulihan lahan bekas tambang, tetapi memperhitungkan kemampuan masyarakat mempertahankan kehidupan ekonomi setelah perusahaan meninggalkan wilayah operasinya.
Masyarakat perlu memiliki keterampilan yang dapat digunakan di sektor lain, kemampuan mengembangkan usaha, serta sumber pendapatan alternatif. "Persiapan tersebut membutuhkan waktu panjang karena perubahan mata pencaharian tidak dapat berlangsung secara instan ketika kegiatan pertambangan sudah berhenti," kata Toha.
Untuk itu, kata dia, tanggung jawab sosial perusahaan perlu diarahkan pada pembangunan kemandirian ekonomi masyarakat. Program pemberdayaan seharusnya tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga membangun kemampuan warga menjalankan kegiatan ekonomi secara mandiri.
Perusahaan juga perlu mengintegrasikan rencana keberlanjutan masyarakat ke dalam komitmen operasional sejak awal. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan keterampilan, pendampingan usaha, dan penciptaan sumber penghasilan baru dapat berjalan seiring dengan kegiatan penambangan.
Penutupan Tambang Bukan Sekadar Reklamasi
Di sisi lain, kata Toha, pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan perusahaan menjalankan kewajiban penutupan tambang. Pengawasan diperlukan agar rencana yang telah disusun perusahaan benar-benar terlaksana, termasuk memastikan tersedianya jaminan yang mendukung kegiatan pemulihan setelah operasi berakhir.
Evaluasi penutupan tambang juga perlu mencakup kondisi lahan yang telah selesai ditambang. Pemeriksaan harus melihat area yang sudah dipulihkan, lahan yang dapat dikembalikan fungsinya, serta perkembangan pemulihan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Baca Juga
Antara Tambang Batu Bara dan Tangki Bensin, Menguji Hitung-hitungan Hilirisasi
Aspek lingkungan tersebut perlu berjalan beriringan dengan evaluasi sosial dan ekonomi. Perusahaan harus melihat apakah program yang dijalankan telah membantu masyarakat mempertahankan kegiatan ekonomi, mengembangkan keterampilan baru, dan menyesuaikan diri dengan perubahan setelah aktivitas pertambangan berakhir.
Dalam praktiknya, proses tersebut membutuhkan koordinasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat setempat. "Perusahaan memiliki tanggung jawab menjalankan program pemulihan dan pemberdayaan, sementara pemerintah mengawasi pemenuhan kewajiban serta memastikan kepentingan masyarakat masuk dalam perencanaan pascatambang," kata Toha.
Perubahan struktur ekonomi daerah juga membutuhkan proses yang tidak singkat. Wilayah yang selama bertahun-tahun bergantung pada pertambangan perlu memiliki sektor usaha lain yang mampu menyerap tenaga kerja dan membuka peluang ekonomi baru ketika kegiatan tambang mulai berkurang.
