Incar Pasar Baru, Kadin Indonesia Tandatangani MoU dengan Mongolia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman atau MoU dengan Mongolia. Penandatanganan itu dilakukan Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie dan Duta Besar Mongolia untuk RI, Enkhtaivan Dashnyam.
“Jadi di tengah-tengah kita lagi sibuk Rapimnas, yang saya cukup bangga adalah teman-teman Kadin Provinsi dan teman-teman dari Komite Bilateral terus mencari pasar baru,” kata Anindya, di sela-sela Rapimnas Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia 2026, di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Anindya menjelaskan bahwa kerja sama dengan Mongolia lahir karena rekomendasi dari anggota Kadin untuk peningkatan ekspor. Selain China dan Amerika Serikat (AS), pengusaha terus mencari pasar-pasar baru tujuan ekspor seperti Uni Eropa dan Kanada. Selain itu, penjajakan juga dilakukan ke Asia Tengah.
“Ternyata di Asia Tengah pun juga tidak kalah (besar potensinya). Misalnya di Mongolia,” ujar dia.
Upaya mencari pasar baru itu, kata Anindya, sebagai cara untuk meningkatkan lebih banyak devisa bagi negara. Selain perdagangan, langkah itu juga penting untuk mendorong peluang investasi.
“Ternyata di Mongolia itu banyak yang seperti di Indonesia, kaya akan sumber daya alamnya,” jelas dia.
Enkhtaivan mengatakan bahwa Indonesia dan Mongolia memiliki hubungan diplomatik yang penting. Tahun ini, hubungan diplomatik kedua negara memasuki usia 70 tahun.
“Saya melihat (MoU) ini sebagai tonggak penting untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara,” kata Enkhtaivan.
Enkhtaivan menjelaskan bahwa dengan hubungan politik yang baik, Mongolia ingin memperluas kerja sama perdagangan dan ekonomi dengan Indonesia.
“Saya pikir penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua kamar dagang akan membantu memperkuat hubungan bisnis, yang menurut saya merupakan faktor pendorong paling penting dalam pengembangan hubungan bilateral,” jelas dia.
Indonesia dipandang sebagai mitra penting Mogolia
Enkhtaivan mengatakan Mongolia melihat Indonesia sebagai mitra yang penting di Asia Tenggara. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di kawasan, Mongolia melihat potensi pengembangan perdagangan di Indonesia.
Mongolia merupakan produsen produk pertanian. Selain itu, mereka juga menghasilkan komoditas berupa mineral kritis.
“Kedutaan Besar Mongolia di Indonesia, kami berupaya mencari cara yang tepat dan memungkinkan untuk membuka akses produk Mongolia ke pasar Indonesia, sekaligus membuka akses bagi produk Indonesia ke Mongolia,” ujar dia.
Ketua komite bilateral Indonesia-Mongolia dan Korea Utara Kadin Indonesia, Harry Warganegara mengatakan Mongolia merupakan salah satu penghasil batubara dengan kalori tinggi dan memiliki rare earth atau tanah jarang.
“Potensi lainnya adalah renewable energy. Karena jumlah penduduk mereka kan sedikit, lahan kosongnya banyak. Sedangkan listrik itu mereka bisa ekspor ke Rusia dan China,” kata Harry.
Sementara itu Wakil Ketua komite bilateral Indonesia-Mongolia dan Korea Utara Kadin Indonesia, Erwin Budisantosa mengatakan beberapa komoditas asal Indonesia berpotensi dipasarkan di Mongolia.
“Beberapa produk-produk seperti produk-produk makanan, rumput laut, protein bar, kopi, rempah-rempah dan banyak yang berhubungan dengan tropical product,” kata Erwin.
Data dari Kementerian Luar Negeri mencatat, total perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$ 56 juta. Dari total perdagangan itu, nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 49,5 juta dan impor dari Mongolia sebesar US$ 6,5 juta. Hubungan kedua negara juga diperkuat dengan kehadiran satu-satunya Pusat Kebudayaan Mongolia di Asia Tenggara di Tanjung Lesung, Banten.
