Gudang Logistik Jabodetabek Makin Terbatas, Okupansi Capai 97%.
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Tingkat keterisian gudang logistik modern di Jabodetabek mencapai 97% pada kuartal III 2026. Tingginya okupansi membuat ketersediaan ruang semakin terbatas di tengah permintaan yang masih berlanjut.
Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Q3 2026 CBRE Indonesia, stok gudang logistik modern di Jabodetabek mencapai 3,6 juta meter persegi (m2). Penyerapan bersih tercatat sebesar 26.800 m2, dengan ruang kosong sekitar 91.000 m2.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus menjelaskan, keterbatasan ruang yang tersedia memengaruhi angka penyerapan gudang logistik modern.
Baca Juga
Anak Usaha Gudang Garam (GGRM) Kelola Penuh Bandara Dhoho Kediri per September 2026
“Karena okupansi itu sudah mencapai 97%, sementara masih banyak permintaan, mungkin permintaan itu tidak bisa terakomodasi di dalam proyek-proyek yang ada,” kata Anton dalam Paparan Kinerja Jakarta Property Market & Tren Q3 2026 di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Menurut Anton, penyerapan yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya tidak menunjukkan penurunan kebutuhan pasar. Pasalnya, kebutuhan calon penyewa tidak selalu dapat dipenuhi oleh ruang yang tersedia, baik dari sisi luas maupun spesifikasi fasilitas.
CBRE Indonesia turut mencatat pasokan baru sebesar 45.000 m2 telah masuk ke pasar gudang modern di Karawang. Selain itu, CBRE memperkirakan pasokan gudang modern di Jabodetabek hingga 2029 mencapai 1 juta m2.
Dari sisi harga, rata-rata sewa gudang modern di Greater Jakarta tercatat Rp 81.800 per meter persegi per bulan pada kuartal III 2026. Pertumbuhan harga sewa secara tahunan masih sedikit di atas 2%.
Anton mengatakan, harga sewa berpotensi mengalami penyesuaian seiring rencana peluncuran proyek baru menjelang akhir tahun. Selain spesifikasi bangunan, lokasi dan ketersediaan fasilitas pendukung turut menjadi pertimbangan perusahaan dalam memilih kawasan industri maupun gudang logistik.
Baca Juga
Prabowo Groundbreaking 10 Gudang Pangan dan Luncurkan 166 Dapur MBG Polri
Dikatakan Anton, perusahaan mulai melirik wilayah di luar pusat industri, termasuk lokasi dengan biaya yang lebih rendah. Karawang menjadi salah satu kawasan yang mulai dipertimbangkan alternatifnya karena biaya yang dinilai semakin tinggi. Perusahaan juga mulai melirik wilayah lain, termasuk Subang di Banten dan Semarang, Kendal serta Batang di Jawa Tengah.
Lebih jauh, ketersediaan utilitas turut menjadi faktor yang diperhatikan dalam menentukan lokasi kawasan industri. Fasilitas pendukung seperti pasokan listrik, pengolahan limbah dan air baku, hingga jaringan internet menjadi bagian dari pertimbangan perusahaan.
