Hunian Perkantoran CBD Jakarta 76,6%, Sektor Industri dan Ritel Ikut Membaik
JAKARTA, investortrust.id — Tingkat hunian perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta mencapai 76,6% pada kuartal III 2026, level tertinggi sejak masa pemulihan pascapandemi. Selain perkantoran, pasar properti sektor industri, logistik, dan ritel juga menunjukkan perbaikan, menurut laporan konsultan properti CBRE Indonesia.
Pertumbuhan ini didorong oleh stabilnya kondisi ekonomi domestik, tingkat inflasi yang terkendali, serta aktivitas investasi yang berlanjut.
Managing Director CBRE Indonesia, Angela Wibawa menyampaikan, kondisi ekonomi dalam negeri masih mendukung aktivitas pasar properti meskipun terdapat ketidakpastian global.
"Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, aktivitas investasi yang berkelanjutan, dan pertumbuhan populasi yang menopang pasar domestik. Konsumen masih tetap aktif, namun semakin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan long-term value creation," kata Angela dalam Paparan Kinerja Pasar Properti Jakarta & Tren Q3 2026 di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan data CBRE Indonesia, pasar perkantoran Central Business District (CBD) Jakarta mencatatkan penyerapan bersih (net take-up) sebesar 22.900 m2 pada kuartal III 2026. Hasil ini mendorong tingkat hunian perkantoran CBD naik menjadi 76,6%, yang merupakan level tertinggi sejak masa pemulihan pasca-pandemi.
Lebih lanjut, Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Judy Sinurat melaporkan berlanjutnya peningkatan aktivitas leasing di berbagai kawasan.
"Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung perkantoran premium grade dan grade A, seiring strategi flight-to-quality yang terus dilakukan tenants. Gedung yang menawarkan spesifikasi modern, fitur sustainability, fasilitas lengkap, serta lingkungan kerja yang berkualitas terus mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan," ujar Judy.
Sementara itu, untuk kawasan perkantoran non-CBD Jakarta, penyerapan bersih tercatat sebesar 21.600 m2 dengan tingkat hunian yang stabil di angka 73,2%. Permintaan terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan di sektor fast-moving consumer goods (FMCG), teknologi, kimia, dan energi.
Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE, Albert Dwiyanto kemudian menjelaskan, perusahaan kini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung.
"Selain biaya sewa, workplace experience, efisiensi operasional, sustainability, dan kesejahteraan karyawan juga menjadi faktor yang semakin penting dalam pengambilan keputusan. Gedung perkantoran yang terus meningkatkan kualitas fasilitas dan kenyamanan bagi penyewa akan memiliki daya saing yang lebih baik," jelas Albert.
Di sektor industri dan logistik, penyerapan lahan industri di Jabodetabek mencapai sekitar 59 hektare (ha) sepanjang kuartal ketiga 2026, sehingga mendorong tingkat hunian kawasan industri menjadi 91,6%. Sementara itu, tingkat hunian sektor logistik mencapai 97,0%.
Baca Juga
Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja Dorong Kebutuhan Hunian Karawang
Head of Capital Markets & Industrial Logistics CBRE Indonesia, Ivana Susilo menyebutkan, faktor pembeda utama antar kawasan industri saat ini adalah kualitas utilitas dan infrastruktur.
"Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan semakin memengaruhi keputusan occupiers, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi. Bagi banyak perusahaan, khususnya operator data center, utilitas yang dapat diandalkan kini sama pentingnya dengan lokasi," ungkap Ivana.
Pada sektor ritel, tingkat hunian pusat perbelanjaan secara keseluruhan di Jakarta naik menjadi 86,8%, dengan mal premium mencatatkan tingkat hunian di atas 95%.
Senior Director dan Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus menuturkan, konsumen kini memandang mal sebagai destinasi pengalaman unik. Terkait dampak Artificial Intelligence (AI), Anton menambahkan bahwa teknologi tersebut mulai memengaruhi evaluasi kebutuhan ruang operasional perusahaan.
"AI bukan lagi konsep masa depan. Teknologi ini sudah mempengaruhi cara berbisnis, cara karyawan bekerja, dan cara pengguna ruang mengevaluasi kebutuhan ruang mereka," terang Anton.
Ia menambahkan, analisis CBRE menunjukkan AI lebih mungkin mengubah jenis pekerjaan dan meningkatkan efisiensi kerja ketimbang mengurangi permintaan ruang kantor secara signifikan dalam jangka pendek.
Alhasil, Angela Wibawa menegaskan prospek pasar properti Jakarta masih terbilang positif. "Meskipun ada ketidakpastian global, fundamental pasar berangsur membaik di sebagian besar sektor, khususnya industry, logistic, dan data center. Ke depan, transformasi teknologi yang dipimpin oleh AI akan menghadirkan tantangan sekaligus peluang, namun prospek jangka panjang pasar real estate Jakarta tetap positif," tutur dia.
Pertumbuhan Ekonomi RI Diramal Positif
Bank Indonesia (BI) sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%-5,7%. Proyeksi tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2026.
“Pertumbuhan ekonomi berada dalam kisaran 4,9-5,7%,” kata Gubernur BI Destry Damayanti di kantor BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Destry mengatakan, untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja neraca pembayaran perlu terus diperkuat guna mendukung ketahanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga
Pekerja di Thamrin dan SCBD Diimbau WFH saat Misa Akbar Paus Fransiskus
Sementara itu, aliran investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 21 September 2026 mencatat net inflow US$ 0,4 miliar. Aliran tersebut ditopang oleh transaksi penerbitan global bond pemerintah dan inflow pada Surat Berharga Negara (SBN).
Destry menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan terkini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, ditopang besarnya berbagai stimulus pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen.
