Kisah Ilham dan BJ Habibie, Berbeda Pendapat demi Mencari Kebenaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ilham Akbar Habibie mengungkapkan kedekatannya dengan sang ayah, Presiden ke-3 RI BJ Habibie, yang tidak hanya terjalin sebagai hubungan orang tua dan anak, tetapi juga sebagai teman dan sahabat dalam berdiskusi. Keduanya kerap berbeda pendapat, tetapi tetap mengutamakan upaya mencari kebenaran.
Ilham mengatakan, perbedaan pandangan dengan ayahnya tidak menjadi persoalan dalam hubungan mereka. Dalam diskusi mengenai suatu hal, keduanya berusaha menemukan pendapat yang benar tanpa menjadikan hubungan keluarga sebagai alasan untuk saling mengalah.
“Kalau buat saya dan buat Bapak, kita ini memang bapak dan anak, tapi juga teman, bahkan sahabat. Jadi kita bisa dalam diskusi itu, saya tidak harus tunduk kepada Bapak kalau karena beliau bapak dan saya punya pendapat yang berbeda, bukan,” kata Ilham dalam Malam Apresiasi Tiga Tokoh Bangsa yang digelar KataData di Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).
Ia mengungkap, terdapat momen ketika BJ Habibie mengambil keputusan sebagai seorang ayah. Namun, ketika keduanya berdiskusi mengenai suatu persoalan, hubungan bapak dan anak tidak menjadi penghalang untuk mencari kebenaran.
“Tapi tentu ada momen-momennya di mana Bapak membuat keputusan sebagai bapak. Tapi kalau dalam diskusi mengenai satu subjek, ya itu kita mencari kebenaran. Tidak ada bapak-anak atau tidak ada egonya. Kita cari yang benar yang mana,” terang Ilham.
Ilham kemudian menceritakan salah satu diskusinya dengan BJ Habibie mengenai keputusan memberikan kesempatan referendum kemerdekaan di Timor Leste (dulunya Timor Timur) pada Agustus 1999 silam. Saat itu, Ilham sempat mempertanyakan keputusan ayahnya karena menilai momentum pelaksanaannya mungkin kurang tepat. “Saya tanya kepada Bapak, 'Pak, kenapa sekarang? Momentumnya mungkin kurang tepat',” tutur Ilham.
Menurut Ilham, BJ Habibie menjelaskan bahwa keputusan tersebut perlu diambil karena merupakan hal yang benar, meskipun belum tentu menjadi pilihan yang menguntungkan bagi dirinya.
“Mungkin tepat atau tidak, tapi ini yang benar. Percaya sama saya, kalau saya tidak lakukan ini sekarang, kecil kemungkinan presiden-presiden setelah saya akan melakukan itu. Kita harus kasih peluangnya sekarang dan saya tidak peduli mengenai diri saya,” kata Ilham menirukan perkataan ayahnya.
Baca Juga
Ilham Habibie: Re-Industrialisasi dan Penguatan Insinyur Jadi Kunci Utama Menuju Indonesia Emas
Ilham menyebut, ayahnya menekankan pentingnya melakukan sesuatu yang dianggap benar dalam mengambil keputusan. “Ini yang penting, yang benar,” ujarnya.
Selain pengalaman berdiskusi, Ilham juga mengungkapkan pelajaran lain yang diperolehnya dari BJ Habibie sejak kecil, yakni pentingnya menyeimbangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan iman dan takwa (imtaq).
Ia menuturkan, BJ Habibie kerap mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa landasan moral dapat membahayakan manusia. “Bapak selalu katakan, 'Kalau kita ini manusia, 100% Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), nol Imtaq (iman taqwa), itu bahaya. Tapi kalau kita 100% Imtaq, hanya punya moralnya tapi nol Iptek, tidak berbahaya',” ucap Ilham.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi salah satu pelajaran yang terus diingatnya sejak kecil. Ilham menilai keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan moral merupakan hal yang perlu dipelajari, dengan tetap berpegang pada kepercayaan masing-masing.
Adapun Ilham menyampaikan cerita tersebut saat menerima Lifetime Achievement Award yang diberikan kepada almarhum BJ Habibie dalam Malam Apresiasi Tiga Tokoh Bangsa yang digelar KataData.
Penghargaan tersebut diberikan kepada tiga tokoh bangsa, yakni B.J. Habibie, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, dan pendiri PT Astra International Tbk William Soeryadjaya.
Acara tersebut dihadiri oleh Yenny Wahid, Ilham Akbar Habibie, dan Edwin Soeryadjaya yang mewakili keluarga masing-masing tokoh. Dalam kesempatan itu, ketiganya berbagi kenangan masa kecil bersama ayah mereka serta pesan moral yang diwariskan kepada anak dan cucu.
Kemudian, Ilham menyampaikan terima kasih kepada KataData dan pihak-pihak yang memberikan penghargaan kepada ayahnya. Ia menyebut penghargaan tersebut sebagai kehormatan bagi keluarganya.
“Buat kami sekeluarga, ini adalah kehormatan, dan dengan senang hati, kami menerimanya. Insyaallah apa yang dilakukan oleh Bapak bermanfaat buat bangsa dan negara,” kata Ilham.
Ia juga mengingat pesan BJ Habibie bahwa pembangunan bangsa merupakan perjalanan panjang yang tidak dapat dicapai secara instan. “Kalau saya mengutip kata Bapak, ini adalah long march. Kita tidak bisa berhasil dan mendapatkan secara cepat, bahkan instan, itu tidak ada,” tutur Ilham.
Ilham Akbar Habibie merupakan putra sulung Presiden ke-3 RI BJ Habibie. Ia lahir di Aachen, Jerman Barat, pada 16 Mei 1963. Ilham dikenal sebagai insinyur penerbangan, pengusaha, dan tokoh organisasi yang menekuni bidang teknologi serta industri dirgantara.
Baca Juga
Ilham Habibie: Ekonomi RI Harus Tumbuh Tinggi Sekaligus Tetap Hijau
Ia menempuh pendidikan teknik penerbangan di Technical University of Munich, Jerman, hingga meraih gelar doktor pada 1994. Ia juga memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Chicago, Amerika Serikat.
Dalam perjalanan kariernya, Ilham pernah bekerja di perusahaan pesawat Boeing dan menjabat sebagai direktur pemasaran PT Dirgantara Indonesia. Ia juga terlibat dalam pengembangan pesawat R-80 melalui PT Regio Aviasi Industri bersama ayahnya serta mengembangkan bisnis melalui perusahaan investasi PT Ilthabi Rekatama.
Di bidang organisasi, Ilham menjabat sebagai ketua dewan pembina The Habibie Center dan ketua umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2024–2027. Ilham juga sempat terjun ke dunia politik pada Pilkada Jawa Barat 2024 sebagai calon wakil gubernur mendampingi Ahmad Syaikhu.
