BPDP Dorong UMKM Kota Malang Kembangkan Produk Turunan Sawit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong pengembangan UMKM di Kota Malang, Jawa Timur untuk mengembangkan produk turunan sawit. Ini dilakukan karena pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah) di Kota Malang memiliki peluang untuk menghasilkan produk ekonomi kreatif dan bernilai tambah tinggi dari minyak sawit serta turunannya.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi lintas sektor yang memilih Kota Malang sebagai pusat edukasi narasi sawit dan UMKM.
Menurut Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Farid Suaidi, ruang edukasi ini menjadi ruang memperkuat komunikasi, memperluas wawasan, dan membangun pemahaman masyarakat mengenai industri kelapa sawit.
“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini,” kata Fuad dalam forum “Menyuarakan Narasi Sawit Baik Bersama Media dan UMKM”, dikutip Senin (26/10/2026).
Farid menekankan bahwa edukasi publik mengenai komoditas strategis nasional ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan butuh gotong royong seluruh elemen.
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis nasional yang berperan dalam menggerakkan perekonomian termasuk UMKM. Karena itulah, pelaku UMKM dapat terus berinovasi, memperluas pasar, dan menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Baca Juga
Apkasi dan BPDP Perkuat Kolaborasi Dorong Tata Kelola Sawit Berkelanjutan
“Forum ini tidak hanya menjadi wadah promosi, tetapi juga sarana edukasi untuk membangun kesadaran mengenai kualitas, keamanan, dan manfaat ekonomi produk oleofood yang dihasilkan oleh UMKM lokal,” lanjutnya.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menggarisbawahi bahwa kelapa sawit merupakan penopang utama fundamental ekonomi makro Indonesia, dengan kontribusi mencapai 9% dari total ekspor non-migas nasional, sekaligus menjadi motor utama hilirisasi energi dan penyerap jutaan tenaga kerja.
“Jurnalis memiliki peran krusial sebagai untuk menyampaikan narasi positif mengenai kontribusi sawit untuk dimanfaatkan pelaku UKM,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin), Markus Susanto menjelaskan bahwa produk UKM banyak yang memanfaatkan produk oleokimia yang merupakan turunan sawit seperti fatty acid, soap noodle, dan gliserin. Sebagian besar produk yang digunakan masyarakat dari pagi sampai malam memiliki kandungan produk oleokimia seperti sabun, kosmetik, sampo, deterjen, dan produk perawatan tubuh
“Saat ini, produk oleokimia hampir 70% memenuhi pangsa pasar ekspor dan 30% dipakai untuk kebutuhan dalam negeri. Kontribusinya bagi devisa ekspor mencapai US$ 5 miliar sampai US$ 6 miliar per tahun,” kata Markus.
Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian, Prof Susinggih Wijana, mengatakan bahwa produk samping dari sawit seperti limbahnya menjadi peluang bagi UKM untuk dapat diolah kembali. Sebab, pemanfaatan limbah sawit juga bagian dari ekonomi sirkular.
“Sebagai contoh, UMKM dapat memanfaatkan limbah sawit untuk bahan baku pakan ternak mulai dari produksi sampai pendistribusian. Selain itu, pelaku UKM dapat menghasilkan produk sabun skala produksi kecil sampai menengah dengan bahan baku dari turunan sawit,” jelas Susinggih.
