BRIN Gandeng Industri untuk Komersialisasi Hasil Riset
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri untuk mempercepat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset. Langkah ini dilakukan dengan memisahkan fungsi penelitian dari proses hilirisasi agar inovasi yang dihasilkan dapat lebih cepat dimanfaatkan oleh industri dan masuk ke pasar.
Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN Mulyadi Sinung Harjono menjelaskan, pemisahan tersebut memungkinkan para periset berfokus pada pengembangan dan penemuan teknologi baru, sementara proses komersialisasi ditangani melalui kerja sama dengan mitra industri.
Baca Juga
Prabowo Perintahkan BRIN Lanjutkan Riset 3 Calon Vaksin Malaria
Menurut Mulyadi, pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan model sebelumnya, ketika periset harus menangani seluruh proses, mulai dari penelitian hingga pemasaran produk.
“Dari sini ternyata lebih efektif, banyak produk-produk yang bisa lebih cepat terhilirkan daripada seorang periset melakukan kegiatan dari hulu sampai hilir semuanya dalam modal satu orang,” ujarnya dalam diskusi pada acara Agrinex 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (25/10/2026).
Dia menjelaskan, BRIN mengembangkan produk riset hingga tingkat kesiapan teknologi atau technology readiness level (TRL) 5–6. Pada tahap tersebut, produk telah dikembangkan dan memiliki kekayaan intelektual (KI), sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengembangan bersama industri.
BRIN tidak masuk langsung ke pasar sebagai produsen. Untuk itu, keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam menentukan kelayakan produk, melakukan riset pasar, hingga meningkatkan kapasitas produksi agar sesuai dengan kebutuhan konsumen.
“Kami lebih suka market research-nya dengan industri. Jadi ketika kami melakukan market research, tidak boleh seorang periset itu melakukan market research sendirian sebelum ada industrinya,” bebernya.
Menurut dia, keterlibatan industri sejak awal diperlukan untuk memastikan riset yang dilakukan memiliki peluang komersial. Dengan demikian, pengembangan produk tidak berhenti pada hasil penelitian, tetapi dapat dilanjutkan menjadi produk yang dibutuhkan pasar.
Untuk memperkuat hubungan antara periset dan pelaku usaha, BRIN menjalankan program BRIN Goes to Industries. Program ini mempertemukan peneliti dengan perusahaan, Kadin, dan asosiasi usaha untuk menjajaki peluang pemanfaatan hasil riset.
Dalam pelaksanaannya, tim BRIN akan menyeleksi sejumlah produk yang dihasilkan organisasi riset untuk dipresentasikan kepada calon mitra industri. Produk-produk tersebut kemudian dibahas lebih lanjut melalui skema business matching.
BRIN mencontohkan, kerja sama dapat dilakukan melalui lisensi apabila perusahaan ingin menggunakan hasil riset yang sudah tersedia. Sementara itu, jika produk belum memenuhi kebutuhan industri, kedua pihak dapat melakukan penelitian lanjutan atau pengembangan bersama.
Sebagai contoh, apabila kapasitas produksi suatu produk belum mencukupi kebutuhan perusahaan, BRIN dan industri dapat bekerja sama untuk meningkatkan skala produksinya. Pengembangan juga dapat dilakukan untuk menyesuaikan spesifikasi produk dengan permintaan pasar.
Baca Juga
Prabowo Mendadak Panggil Kepala BRIN ke Istana Malam-Malam, Ada Apa?
Selain itu, BRIN membuka peluang kolaborasi dalam kepemilikan kekayaan intelektual (KI). Apabila kerja sama menghasilkan KI baru, kontribusi masing-masing pihak akan dievaluasi untuk menentukan porsi kepemilikan BRIN dan industri.
"Jadi ketika kami melakukan, jadi ketika produk sudah jadi KI, kami harus kerjasama dengan industri, supaya menentukan market research bareng-bareng untuk pekerja keluar bareng-bareng. Nah, ini yang kita lakukan sekarang itu. Jadi memang kami tidak akan masuk langsung ke pasar, karena kami bukan produser," paparnya.
