5 Tahun Lagi RI Setop Impor Bensin, Pemerintah Andalkan Program E50
Poin Penting
|
BALIKPAPAN, investortrust.id – Pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor bensin, termasuk Pertalite dan Pertamax, dalam lima tahun ke depan. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah akan meningkatkan produksi minyak dalam negeri sekaligus mendorong penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar melalui program bensin E10 hingga E50.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi mewujudkan swasembada energi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dengan mengoptimalkan sumber daya alam yang tersedia di Indonesia.
“Kita harus mengurangi impor kita. Bahkan arahan Bapak Presiden Prabowo dalam rangka menuju swasembada energi, kita harus menyetop impor-impor,” ujar Bahlil dalam peresmian operasional sumur gas Jangkrik NE-6 dan fasilitas produksi Lapangan Maha South Hub, Kamis (22/10/2026).
Bahlil menjelaskan, pemerintah akan melanjutkan keberhasilan program biodiesel B50 yang memanfaatkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku campuran solar. Menurut dia, kebutuhan solar nasional yang mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun diklaim telah dapat dipenuhi melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Kini, pemerintah mengarahkan strategi serupa untuk memenuhi kebutuhan bensin. Konsumsi bensin nasional diperkirakan mencapai 30 juta hingga 38 juta kiloliter per tahun, bahkan dapat meningkat hingga 40 juta KL. Sementara itu, produksi dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 40% kebutuhan, sehingga sebagian besar pasokan masih harus dipenuhi melalui impor.
"Bagaimana agar lima tahun ke depan kita tidak lagi melakukan impor terhadap BBM yang Pertalite, Pertamax? Maka caranya adalah kita pertahankan produksi yang ada sekarang, bahkan kita tingkatkan dengan kita mendorong program E50 yang diawali dengan E10, E20, dan sampai E50," tutur Bahlil.
Dia menerangkan, etanol yang akan digunakan sebagai campuran bensin dapat diproduksi dari bahan baku nabati, antara lain singkong, jagung, dan tebu. Bahlil menilai ketersediaan lahan di Indonesia masih membuka peluang bagi pengembangan industri etanol untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Pemerintah berharap pengembangan etanol dapat memperluas pemanfaatan komoditas pertanian sekaligus membangun industri bahan bakar berbasis sumber daya domestik. Dengan demikian, strategi substitusi impor tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi minyak, tetapi juga pada diversifikasi bahan baku energi.
"Ditargetkan pada lima tahun ke depan, sambil kita naikkan lifting, kita juga akan mendorong etanol supaya pada tahun tepatnya itu kemudian tidak lagi kita melakukan impor BBM baik solar maupun Pertalite dan bensin lainnya. Ini adalah strategi kita untuk mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden," tegasnya.
