Hadapi Cuaca Ekstrem hingga Banjir, Wamen PU Minta Daerah Terapkan Peta Iklim
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU), Diana Kusumastuti menginstruksikan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk mengarusutamakan ketahanan iklim dalam seluruh siklus pembangunan infrastruktur.
Langkah ini dinilai mendesak guna menghadapi ancaman cuaca ekstrem, mulai gelombang panas perkotaan (urban heat island) hingga potensi banjir besar saat musim hujan.
Demikian disampaikan Diana dalam acara Diseminasi BeHousing yang diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Diana mengungkapkan, kawasan perkotaan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan ganda akibat fluktuasi iklim yang kian ekstrem. Saat musim kemarau, kenaikan suhu rata-rata global yang diperkirakan telah meningkat lebih dari 2 derajat celsius memperparah efek pulau panas. Sementara saat musim hujan, intensitas curah hujan yang tinggi mengancam kawasan pemukiman dengan banjir.
"Kota yang tangguh itu bukan sekadar kota yang memiliki infrastruktur, tetapi kota tadi juga harus mampu menjaga keberlanjutannya, keberlanjutan dari pelayanannya ketika kita menghadapi tekanan iklim," tegas Diana.
Integrasi Peta Iklim dan Pembangunan Infrastruktur
Guna merespons dinamika cuaca tersebut, Kementerian PU mendorong penggunaan peta iklim Typical Meteorological Year (TMY) yang membagi Indonesia ke dalam delapan zona iklim sebagai pedoman perencanaan tata ruang dan desain bangunan di daerah.
"Di Kementerian Pekerjaan Umum, ketahanan iklim ini tentunya perlu diarustamakan dalam seluruh siklus pembangunan, mulai dari perencanaan dan desain hingga konstruksi, bahkan sampai kepada pengelolaannya pun dan sampai pemeliharaannya," ujar Diana.
Ia turut menjelaskan, penanganan ancaman iklim memerlukan pendekatan yang komprehensif. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan panas perkotaan, daerah diminta menerapkan desain passive cooling (pendinginan pasif), memperbanyak ruang terbuka hijau, serta melakukan konservasi air.
Sebaliknya, untuk mengantisipasi luapan air pada puncak musim hujan, infrastruktur daerah wajib diperkuat dengan sistem pengendalian banjir yang terpadu.
Baca Juga
Wamen PU Pastikan Normalisasi Kali Ciliwung Tetap Berjalan Antisipasi Cuaca Ekstrem Jakarta
"Untuk menghadapi banjir, hujan ekstrem, ini juga diperlukan sistem drainasenya, pengendalian banjirnya, ruang resapannya, dan juga pengelolaan air hujannya. Dan untuk menghadapi kekeringan, kita juga perlu konservasi air, efisiensi penggunaan, dan juga pengelolaan sumber daya air yang lebih baik," jelas Diana.
Sebagai bukti penerapan perencanaan berbasis iklim, Kementerian PU telah mengembangkan purwarupa rumah susun (rusun) hemat energi di Tegal, Jawa Tengah, yang disesuaikan dengan tipologi dan karakter iklim setempat.
Diana berharap skema penerapan peta iklim dan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) ini dapat direplikasi oleh pemerintah daerah bersama masyarakat dan dunia usaha.
"Kami di Kementerian Pekerjaan Umum, pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tetapi kita juga pada kinerjanya, manfaatnya untuk masyarakat, sehingga hasil riset ini tentunya sangat diperlukan untuk memperkuat perencanaan desain," tutur dia.
Sekadar informasi, Wamen PU telah pelaksanaan groundbreaking pembangunan Purwarupa Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Rendah Karbon di Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat (17/1/2025) lalu.
Purwarupa Rusunawa Rendah Karbon Tegal memiliki luas bangunan 273,5 m2 dengan tiga lantai termasuk pilotis. Jumlah kamarnya sebanyak 4 unit atau 2 unit per lantai dengan luasan 35,92 m2/unit.
Purwarupa rusunawa ini merupakan purwarupa kedua yang dibangun sebagai hasil kerja sama antara Kementerian PU dan Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development Program (SATREPS), dengan Pemerintah Kota Tegal sebagai mitra strategis.
Keunggulan utama purwarupa ini adalah penggunaan sistem hibrid yang menggunakan konsep bangunan sustainable housing dengan kombinasi beton dan kayu olahan.
Baca Juga
Wamen PU: Tahap Awal Giant Sea Wall Jakarta Gunakan APBD DKI
Desain bangunannya mengoptimalkan prinsip bangunan berkelanjutan, seperti orientasi bangunan, ventilasi alami, material ber-insulasi tinggi, dan tata ruang yang mendukung aliran udara, sehingga menjaga kenyamanan bangunan tanpa pendingin udara konvensional.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi emisi karbon tetapi juga menekan biaya operasional, sehingga mewujudkan hunian hemat energi yang dapat meningkatkan kualitas hidup penghuninya dan mengurangi jejak karbon.
