KKP Bidik Investasi Eropa untuk Hilirisasi Tilapia dan Rumput Laut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka peluang investasi dan kemitraan dengan investor Eropa untuk mengembangkan industri tilapia atau ikan nila serta rumput laut dari hulu hingga hilir. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat produksi, industri pengolahan, dan akses pasar global.
Peluang tersebut ditawarkan kepada peserta ‘Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026’ yang berlangsung di Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026).
Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, keterhubungan kawasan budi daya dengan industri pengolahan dan pasar menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.
“Melalui Indonesia–Europe Business Forum 2026, kita dapat duduk bersama, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi terbaik yang saling menguntungkan,” ujar Trenggono dalam keterangan resmi, Minggu (18/10/2026).
Baca Juga
KKP, menurut Trenggono, memiliki sejumlah program pengembangan perikanan budi daya, antara lain revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa Barat untuk komoditas tilapia, pengembangan tambak udang terintegrasi di Waingapu, serta budi daya ikan darat tematik di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Sementara itu, pengembangan rumput laut terus didorong di berbagai daerah untuk meningkatkan produksi dan mendukung hilirisasi.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, TB Haeru Rahayu menambahkan, pengembangan tilapia di Pulau Jawa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, sekaligus memasok bahan baku industri pengolahan. Peluang kemitraan mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, hingga ketertelusuran produk.
“Khusus untuk pengembangan komoditas tilapia di Pulau Jawa diarahkan untuk mendukung pemenuhan konsumsi dalam negeri dan penyediaan bahan baku industri pengolahan. Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk,” ujar TB Haeru.
Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo mengungkapkan, nilai ekspor tilapia Indonesia pada Januari-November 2025 mencapai US$ 87,57 juta. Amerika Serikat (AS) menjadi pasar utama dengan pangsa 51,7%, disusul Kanada 24,7%. Adapun ekspor ke Uni Eropa mencapai US$ 7,13 juta atau 8,1% dari total nilai ekspor.
Baca Juga
Rumput Laut RI Dapat Tarif 0% di AS, Peluang Kuasai Pasar Makin Terbuka
Dia menjelaskan, nilai ekspor tilapia Indonesia tercatat US$ 6,98 per kg, tertinggi di antara eksportir utama dunia seperti China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan. “Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan seluruh pelaku industri tilapia di Indonesia,” tutur Andhi.
Dia mengemukakan, industri tilapia juga berpeluang menerapkan konsep bebas sampah (zero waste) melalui pemanfaatan seluruh bagian ikan. Selain daging untuk fillet, kulit dan sisik dapat diolah menjadi bahan baku kolagen dan gelatin, sedangkan bagian lainnya dimanfaatkan untuk tepung dan minyak ikan.
Di sektor rumput laut, perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (Introsea), Artati Widarti mengatakan, peluang hilirisasi tidak terbatas pada produk hidrokoloid seperti karaginan dan agar. Rumput laut juga berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta bahan pendukung pertanian dan perikanan.
