Kemendag Perkuat Strategi Amankan Pasar Ekspor Baja di UE dan Inggris
Poin Penting
|
TANGERANG, Investortrust.id -- Kementerian Perdagangan terus memperkuat strategi mengamankan akses pasar ekspor nasional di tengah penyesuaian tarif dan kuota impor produk baja yang diterapkan Uni Eropa (UE) dan Inggris. Langkah ini sangat penting untuk mempertahankan daya saing serta keberlanjutan ekspor baja Indonesia ke kawasan Eropa.
Upaya strategis tersebut menjadi pokok pembahasan dalam seminar bertajuk “Perubahan Tarif Baja Uni Eropa dan Inggris: Strategi Amankan Pasar Ekspor Indonesia” yang diselenggarakan sebagai rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten pada Jumat (16/10/2026).
Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia Kemendag, Dina Kurniasari, menekankan pentingnya memahami perubahan kebijakan mitra dagang sebagai fondasi utama perumusan strategi ekspor. Menurutnya, munculnya regulasi baru seperti penyesuaian tarif, penetapan kuota, hingga Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan sektor swasta demi memastikan industri baja Indonesia tetap unggul di pasar global.
"Dalam beberapa tahun terakhir, negara mitra makin aktif menerapkan perlindungan industri domestik sebagai respons atas perubahan iklim dan kelebihan kapasitas produksi. Pemerintah terus mengedepankan diplomasi dan negosiasi dengan UE dan Inggris untuk memperjuangkan kepentingan ekspor Indonesia. Di sisi lain, industri dalam negeri perlu mempersiapkan langkah antisipasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan perubahan kebijakan," ungkap Dina Kurniasari.
Atase Perdagangan RI di Jenewa, Swiss, Ghanna Wivanius, menjelaskan bahwa pengamanan akses pasar Indonesia dilakukan melalui dua jalur utama, yakni perundingan multilateral di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan pendekatan bilateral melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-UE (I-EU CEPA). Fokus utamanya mencakup perjuangan alokasi kuota khusus, kompensasi yang adil, serta perlindungan komitmen tarif nol persen.
"Upaya perundingan ini harus berjalan beriringan dengan penguatan daya saing industri dalam negeri dan diversifikasi ekspor ke pasar potensial lain seperti Timur Tengah, Asia Selatan, dan ASEAN," tegas Ghanna Wivanius.
Baca Juga
KADI Selidiki Antidumping Impor Baja Lapis Seng Asal China yang Banjiri Pasar RI
Atase Perdagangan RI di London, Inggris, Ayu Siti Maryam, menambahkan bahwa kebijakan impor baja di Inggris membawa tantangan sekaligus peluang bagi eksportir Indonesia. Meskipun potensi pasar Inggris sangat besar dengan nilai impor besi dan baja mencapai USD 7,02 miliar pada 2025, Indonesia belum memperoleh tarif khusus sehingga harus bersaing dengan negara lain dalam memanfaatkan kuota residual melalui mekanisme first come, first served. Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Ayu menyarankan agar eksportir mengatur jadwal pengiriman sejak awal kuartal, memanfaatkan subkuota produk hot-rolled coil (HRC), serta memenuhi persyaratan ketelusuran bahan baku dan proses produksi.
"Optimalisasi pemanfaatan kuota, penguatan diplomasi bilateral, serta peningkatan kepatuhan terhadap persyaratan pasar menjadi kunci penting untuk menjaga daya saing ekspor baja Indonesia ke Inggris. Melalui koordinasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha, peluang pasar yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal," tutur Ayu Siti Maryam.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, menekankan pentingnya penguatan daya saing dan kepastian akses pasar di tengah dinamisnya penyesuaian regulasi global. Menurutnya, langkah antisipasi terhadap perubahan tarif dan kuota harus dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, pemahaman ketentuan pasar, serta perluasan tujuan ekspor. Langkah ini sangat krusial agar industri baja nasional tidak hanya mampu mempertahankan pasar utama, tetapi juga responsif dalam menangkap berbagai peluang alternatif.
Manfaat besar dari kegiatan ini dirasakan langsung oleh para peserta seminar, salah satunya Muhammad Raim yang merupakan pelaku usaha. Ia menilai seminar ini sangat bermanfaat dalam memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika kebijakan perdagangan beserta dampaknya terhadap ekspor.
"Materi yang disampaikan sangat jelas dan membuka wawasan kami tentang tantangan ekspor. Informasi ini membantu kami menentukan arah strategi industri di tengah persaingan pasar global," kata Muhammad Raim.
