Menperin Siapkan 11.000 Kapasitas Pelatihan Vokasi untuk Pekerja Migran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong penguatan sinergi antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang mampu bersaing di pasar global.
Kolaborasi tersebut dilakukan melalui optimalisasi fasilitas pendidikan dan pelatihan vokasi industri guna meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Menperin Sarmuji seusai kegiatan bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin.
"Ini menunjukkan komitmen dua kementerian untuk saling bersinergi dan saling menguatkan dengan satu tujuan, yaitu membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam Kabinet saat ini, kita tidak mengedepankan ego sektoral, tetapi saling mengisi dan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing kementerian," kata Sarmuji, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga
Buka Pelatihan Vokasi di Padang, Wamenaker Targetkan 300 Ribu Peserta di 2026
Menperin menjelaskan, Kemenperin memiliki ekosistem pendidikan dan pelatihan vokasi yang lengkap, mulai balai diklat industri, politeknik, sekolah menengah kejuruan (SMK), hingga akademi komunitas. Fasilitas tersebut telah memiliki kompetensi khusus serta keterhubungan dengan dunia usaha dan industri sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan pekerja migran sesuai kebutuhan pasar internasional.
Untuk memperkuat kolaborasi tersebut, kedua kementerian melakukan pembaruan nota kesepahaman (MoU) guna memperluas cakupan sektor pelatihan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah calon pekerja migran yang memperoleh keterampilan dan sertifikasi kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.
Sarmuji menyebutkan, kapasitas pelatihan di balai diklat industri Kemenperin mencapai sekitar 11.000 peserta per tahun. Sementara itu, kerja sama pelatihan dengan KP2MI pada tahun ini mencakup sekitar 1.066 peserta. Dengan kapasitas yang tersedia, jumlah peserta diharapkan meningkat signifikan pada tahun mendatang.
"Insyaallah ke depan akan lebih banyak lagi, karena Kemenperin tidak hanya memiliki balai diklat, tetapi juga politeknik, SMK, dan akademi komunitas," jelasnya.
Lebih lanjut, Menperin menilai penguatan kompetensi tenaga kerja semakin penting seiring perubahan karakter industri nasional akibat perkembangan teknologi. Meskipun industri pengolahan terus tumbuh dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, penerapan teknologi dalam proses produksi turut mengubah kebutuhan dan pola penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan bonus demografi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara maju yang menghadapi penurunan jumlah penduduk usia produktif. "Kalau mereka dilatih dengan baik, mereka bisa mengisi lapangan kerja di luar negeri yang memang membutuhkan tenaga kerja terampil. Pekerja yang terampil itu adalah delegasi Indonesia, mereka bisa membawa nama baik Indonesia," tegas Sarmuji.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengataka, perluasan kerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk menyiapkan pekerja migran Indonesia yang kompeten dan sesuai kebutuhan pasar kerja global melalui penguatan pelatihan vokasi, sertifikasi, serta pengembangan Migrant Center terintegrasi.
“Kalau dulu hanya manufaktur, sekarang akan memperluas ke semua sektor yang dimiliki oleh Balai Diklat Industri, yang dimiliki oleh perindustrian, baik itu berupa politeknik maupun akademi komunitas, dan termasuk SMK,” terang Menteri Mukhtarudin.
Baca Juga
Mau Asah Skill Gratis? Cek Syarat dan Jadwal Pelatihan Vokasi Kemnaker Batch 6
Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Adie Rochmanto Pandiangan, menjelaskan bahwa sinergi ini mencakup pembentukan migrant center sebagai pusat layanan terpadu serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi industri. Pelatihan tersebut akan memanfaatkan fasilitas unit pendidikan Kemenperin maupun Balai Diklat Industri (BDI).
Kemenperin menyelenggarakan pendidikan vokasi industri melalui 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK untuk mencetak calon SDM industri kompeten dan berdaya saing global. Kerja sama ini memberikan peluang bagi lulusan unit-unit pendidikan vokasi industri tersebut agar bisa berkarya di luar negeri.
“Dalam kerja sama tersebut, BPSDMI dan Direktorat Jenderal P3KLN mengidentifikasi peluang kerja sektor industri manufaktur dan/atau sektor lainnya di luar negeri dan potensi ketersediaan lulusan pendidikan vokasi industri,” jelas Adie.
