Arum Manis Tempo Dulu: Camilan Khas Jogja yang Menghidupi 30 Keluarga
Poin Penting
|
SLEMAN, investortrust.id – Ia datang ke Yogyakarta untuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga, bukan untuk berjualan arum manis. Namun Ardi, perantau asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menjadi pemilik usaha jajanan tradisional itu dengan 30 karyawan.
Semua bermula dari sulitnya mencari pekerjaan. Pada 2011, Ardi memutuskan merintis usaha sendiri. Ia sebenarnya sudah punya bekal berjualan aneka makanan, mulai dari roti cokelat, enting jagung, hingga sale pisang. Pengalaman itu melatihnya membaca peluang pasar, dan pilihannya jatuh pada arum manis, jajanan yang awalnya belum banyak ia pahami.
Idenya datang dari cerita sang mertua asal Kebumen, Jawa Tengah. Dahulu, arum manis dijual berkeliling dari sekolah ke sekolah. Penjualnya membawa alat dengan bunyi khas sebelum membungkus dagangan dengan kertas.
"Arum itu dari tepung yang digoreng menjadi harum, kemudian manisnya itu dari gula yang direbus jadi karamel," jelas Ardi saat kunjungan LPDB Koperasi bersama media di Yogyakarta, Selasa (13/10/2026).
Di awal usaha, Ardi mempekerjakan tiga orang untuk produksi dan pengemasan. Ia sendiri turun langsung memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan, memanfaatkan pengalamannya sebagai tenaga penjualan. Ia mendatangi konsumen dan toko di berbagai kota.
"Saya dari kota ke kota. Nanti kalau sudah sore ya nginep di situ. Sehingga hampir semua kabupaten, misalnya Jawa Tengah, Jawa Timur, ya paling tidak separuhnya sudah saya kuasai," ujarnya.
Setelah belasan tahun, usahanya berkembang. Kini ia memiliki 30 karyawan dan delapan tenaga penjualan bersepeda motor untuk melayani wilayah Yogyakarta. Ia juga menyiapkan armada untuk menjangkau konsumen di Ciamis dan Bali.
Akses Modal Lewat Koperasi, Bertahan di Tengah Tekanan
Dalam mengembangkan bisnis, Ardi mengaku mendapat kemudahan pembiayaan setelah bergabung dengan koperasi Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Menurut dia, syarat pembiayaan di koperasi lebih sederhana dibandingkan pengalamannya mengajukan pinjaman ke bank konvensional. Sisa hasil usaha (SHU) juga menjadi manfaat yang ia pertimbangkan.
Baca Juga
Kadin Perkuat Peran Sosial Dunia Usaha untuk Lindungi UMKM dari Dampak Bencana
"Keuntungannya pertama kita diberikan kemudahan ya tidak se-njelimet karena koperasi ya, jadi syaratnya tidak terlalu rumit, kemudian ada SHU-nya gitu ya," ujarnya.
Perjalanan usaha itu tak selalu mulus. Ardi mengaku omzetnya turun sejak pandemi Covid-19. Di tengah situasi sulit, ia memilih mempertahankan karyawan meski harus mengambil keputusan berat.
"Kami anggap karyawan itu adalah aset, kita pertahankan sambil menunggu ekonomi kita ini bagus. Terpaksa kami harus menjual aset," ucapnya.
Saat harga bahan baku melonjak, ia juga enggan mengorbankan kualitas. Ketika produsen lain menurunkan mutu bahan demi menekan biaya, ia tetap memakai bahan baku premium dan menyiasatinya lewat penyesuaian harga atau pengurangan volume isi sesuai permintaan pasar.
Ia pun menerapkan kalkulasi ketat pada sistem konsinyasi (titip jual) untuk menekan retur. Bila retur di suatu toko mencapai 50 persen, pasokan ke toko tersebut langsung dikurangi untuk meminimalkan kerugian.
Mengincar Kapasitas Lebih Besar dan Pasar Ekspor
Kini, selain membesarkan Arum Manis Tempo Dulu dan menjajaki peluang ekspor, Ardi yang juga aktif sebagai Ketua UMKM di wilayah Sleman terus membina wirausahawan lokal agar mampu mengelola bisnis secara matang, konsisten, dan terukur.
Dalam kunjungan LPDB Koperasi ke rumah produksinya, ia berharap bisa kembali memperoleh pembiayaan dengan nominal lebih besar. Tambahan modal itu direncanakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pemasaran ke berbagai daerah hingga pasar ekspor.
"Saya berharap dapat kembali mendapatkan pinjaman yang lebih besar lagi untuk meningkatkan produksi. Karena kalau produksi meningkat, tentu akan dapat menambah karyawan," ujarnya.
