Perdagangan RI-Uni Eropa Masih 30 Miliar Euro, Kadin Incar Potensi Tiga Kali Lipat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal ini dapat ditingkatkan melalui perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA).
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, nilai perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa saat ini berada di kisaran 30 miliar euro. Angka tersebut masih jauh dibandingkan Vietnam yang telah mencapai sekitar 90 miliar euro yang telah memiliki perjanjian dagang terlebih dahulu dengan Eropa.
"Kita baru sekitar 30 miliar euro. Sedangkan negara seperti Vietnam itu angkanya sudah sampai 90 miliar euro kurang lebih," kata Anindya saat ditemui di Kantor Kadin, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
Menurut Anindya, perbandingan tersebut menunjukkan besarnya peluang yang masih dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan perdagangan dengan negara-negara Eropa.
Baca Juga
I-EU CEPA Ditargetkan Rampung Akhir 2026, Kadin Minta Pengusaha Siap Ekspansi ke Eropa
Ia menilai, I-EU CEPA dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas pasar ekspor, terutama pada sektor-sektor unggulan yang memiliki potensi permintaan di kawasan tersebut. Sejumlah sektor yang disoroti antara lain alas kaki, tekstil dan garmen, furnitur, elektronik, produk makanan, serta kopi.
Jika peluang pasar Eropa bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha di Tanah Air, maka Anindya pun optimistis nilai ekspor Indoesia dari Uni Eropa dapat meningkat tiga kali lipat atau setara dengan nilai perdagangan Thailand yang sudah mencapai 90 miliar euro.
"Wah kita harus, memang tidak gampang 3 kali lipat dari kita tapi kami yakin kita membutuhkan juga sih," ungkap Anindya.
Lebih lanjut, Anindya berharap pelaku usaha mulai mempersiapkan diri agar dapat memanfaatkan peluang perdagangan setelah perjanjian tersebut berlaku. Dia juga menekankan pentingnya peningkatan ekspor bagi perekonomian nasional, terutama melalui kontribusinya terhadap penerimaan devisa.
"Kalau ekspornya besar, devisa menguat, tentu kita semakin kuat," tambah Anindya.
