AHY Ungkap Tantangan RI Hadapi Zaman AI, 3.500 Desa Masih Kesulitan Sinyal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan masih terdapat lebih dari 3.500 desa di Indonesia yang mengalami black spot atau belum memiliki sinyal telekomunikasi yang kuat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan infrastruktur digital nasional di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Setahu saya lebih dari 3.500 desa itu masih black spot atau tidak memiliki sinyal yang kuat, ini juga adalah sebuah tantangan bagi Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia, dan itu juga tantangan infrastruktur," kata AHY dalam acara Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menurut AHY, Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi digital. Hampir 82% masyarakat Indonesia tercatat sebagai pengguna aktif internet. Selain itu, Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai mencapai US$ 100 miliar.
Namun, AHY menilai Tanah Air masih perlu meningkatkan kesiapan dalam menghadapi perkembangan teknologi baru. Ia menyebut peringkat Indonesia dalam kesiapan menghadapi teknologi terdepan atau readiness for frontier technologies masih berada di posisi ke-76.
"Ini membuka ruang tentunya diperlukan kebijakan, diperlukan regulasi, dan juga ekosistem yang bisa menghadirkan kemajuan-kemajuan. Kita harus tingkatkan ini semuanya," ujarnya.
AHY turut menggarisbawahi, pengembangan infrastruktur digital tidak bisa dipisahkan dari pembangunan infrastruktur fisik. Konektivitas digital membutuhkan dukungan jaringan telekomunikasi, kabel bawah laut, serat optik, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Pembangunan tersebut juga membutuhkan dukungan energi yang memadai, mengingat pengoperasian pusat data atau data center dan penggunaan AI membutuhkan konsumsi energi yang besar.
"Data center misalnya, itu luar biasa, harus kita hitung secara cermat, karena kalau tidak kita justru bisa menghadirkan permasalahan dan tantangan baru dalam lingkungan hidup kita, termasuk kebutuhan air bersih," tutur AHY.
Ketua Umum Partai Demokrat itu juga mengingatkan agar pengembangan pusat data tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
AHY menegaskan terdapat empat fondasi yang perlu disiapkan Indonesia untuk mendukung penerapan AI, yakni konektivitas (connectivity), komputasi (compute), konteks (context), dan kompetensi (competence).
Konektivitas mencakup ketersediaan jaringan internet yang andal dan berkualitas. Sementara itu, komputasi berkaitan dengan kapasitas pemrosesan teknologi, konteks menyangkut kesesuaian teknologi dengan kondisi lokal, dan kompetensi berhubungan dengan kesiapan sumber daya manusia.
"Jadi, ini semua tidak bisa dipisahkan, tidak lagi bisa kita menggunakan pendekatan silo terpisah antara pembangunan fisik dengan pembangunan infrastruktur digital," imbuh AHY.
AI Ubah Peta Lapangan Pekerjaan
Selain persoalan infrastruktur, AHY menyoroti perubahan pasar tenaga kerja akibat perkembangan AI. Ia mengutip proyeksi World Economic Forum (WEF) 2025 yang memperkirakan sebanyak 170 juta pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan lainnya diproyeksikan hilang.
Menurut AHY, perubahan tersebut membuat peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi kebutuhan penting agar masyarakat dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ia juga menyebut 59% tenaga kerja diperkirakan membutuhkan pelatihan ulang (reskilling) atau peningkatan keterampilan (upskilling).
"Jadi kita harus masuk ke wilayah pekerjaan barunya, jangan kemudian kita menjadi korban masuk ke wilayah pekerjaan yang hilang dan tidak lagi diperlukan," tandasnya.
AHY menambahkan, pengembangan AI harus diikuti dengan penguatan perlindungan data, keamanan siber, dan pengawasan manusia. Ia menegaskan keputusan strategis yang berdampak besar tetap harus berada dalam kendali manusia.
"Bagaimanapun keputusan-keputusan strategis atau high impact decisions itu masih menjadi domain-nya manusia, jangan di-takeover oleh AI," tegas anak sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia pun berharap pemanfaatan AI dapat meningkatkan daya saing nasional, mulai dari sektor industri, pertanian, logistik, pelayanan publik, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dikatakan AHY, pengembangan teknologi digital pada akhirnya harus berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing Indonesia, sekaligus mendorong negara keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Ia menyebut pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Indonesia saat ini sebesar US$ 5.120. Sementara itu, untuk masuk kategori negara berpendapatan tinggi atau high income country, Indonesia perlu mencapai GNI per kapita setidaknya US$ 14.000.
"End state-nya adalah national competitiveness, karena ini yang bisa membuat kita keluar dari middle income trap. Membawa kita menjadi negara dengan berpenghasilan tinggi (high income country)," kata AHY.
