Dari Perut Bumi Menuju Daya Cipta: Dua Tahun Transformasi Ekonomi Indonesia
Oleh: Fithra Faisal Hastiadi Ph.D - Dosen FEB UI
INVESTORTRUST - Selama berabad-abad, negeri ini mengirimkan kekayaannya ke seberang lautan. Rempah-rempah, minyak bumi, batu bara, dan mineral berangkat meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Kekayaan itu menghidupi banyak peradaban, menggerakkan mesin-mesin industri di negeri yang jauh, tetapi tidak selalu meninggalkan kemakmuran yang sepadan bagi mereka yang hidup di tanah tempat kekayaan itu berasal.
Barangkali inilah salah satu ironi terbesar perjalanan ekonomi Indonesia. Kita terlalu lama menjadi bangsa yang kaya karena apa yang diwariskan alam, tetapi belum sepenuhnya sejahtera karena apa yang mampu kita ciptakan sendiri. Kita memiliki sumber daya, tetapi sering kehilangan nilai tambah. Kita menghasilkan pertumbuhan, tetapi tidak selalu menciptakan pekerjaan yang bermartabat. Angka-angka ekonomi bergerak maju, sementara sebagian manusianya masih tertatih mengejar kehidupan yang lebih baik.
Pada 8 Oktober 2026, sebuah peristiwa di Weda Bay, Halmahera Tengah, seolah menjadi metafora bagi upaya mengubah perjalanan panjang tersebut. Presiden Prabowo melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Dari tanah yang selama ini dikenal karena kandungan nikelnya, Indonesia mulai mengirimkan produk industri yang berada lebih jauh dalam rantai nilai global.
Mungkin bagi sebagian orang, peristiwa tersebut hanyalah seremoni ekspor. Namun, dalam perspektif ekonomi pembangunan, ia dapat dibaca sebagai simbol perubahan orientasi: dari bangsa yang terutama menjual apa yang ditemukan di perut buminya, menuju bangsa yang berusaha menciptakan sesuatu melalui kemampuan industrinya.
Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo pada 20 Oktober 2026, refleksi ekonomi Indonesia karenanya tidak cukup berhenti pada seberapa tinggi pertumbuhan yang berhasil dicapai. Pertanyaan yang lebih mendasar justru terletak pada bagaimana pertumbuhan itu diciptakan, struktur apa yang sedang dibangun, dan masa depan seperti apa yang hendak diwariskan.
Sebab, barangkali pencapaian terpenting periode ini bukan semata-mata tentang percepatan pertumbuhan, melainkan upaya mengubah mesin yang menghasilkan pertumbuhan itu sendiri.
Dari ekonomi yang terutama mengandalkan permintaan menuju ekonomi yang semakin memperkuat penawaran. Dari sekadar menggerakkan konsumsi menuju pembangunan kapasitas produksi.
Secara makroekonomi, fondasi transformasi tersebut mulai memperlihatkan tanda-tandanya. Setelah tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada triwulan pertama 2026 dan 5,29 persen pada triwulan kedua. Secara keseluruhan, pertumbuhan semester pertama mencapai 5,45 persen, di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.
Namun, angka yang lebih menarik justru datang dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Pada triwulan pertama 2026, PMTB tumbuh 5,96 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen. Kecenderungan ini semakin kuat pada triwulan kedua, ketika PMTB meningkat 6,87 persen, jauh di atas pertumbuhan PDB sebesar 5,29 persen.
Perbedaan tersebut memiliki makna ekonomi yang penting. Ketika investasi tumbuh lebih cepat daripada output, terdapat indikasi bahwa pembentukan kapasitas produktif mulai bergerak lebih cepat daripada aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Konsumsi memang masih menjadi penopang terbesar perekonomian Indonesia. Namun, akselerasi PMTB memberikan sinyal awal bahwa investasi semakin mengambil peran dalam membentuk sumber pertumbuhan masa depan.
Di sinilah pemikiran Jean-Baptiste Say, ekonom Prancis lebih dari dua abad silam, menemukan kembali relevansinya.
Melalui gagasan yang kemudian dikenal sebagai Say's Law, Say menempatkan produksi sebagai sumber penciptaan pendapatan yang pada gilirannya memungkinkan terbentuknya permintaan. Dalam rumusan populernya, supply creates its own demand.
Tentu, hukum Say tidak berarti bahwa setiap produk secara otomatis akan menemukan pembelinya. Namun, pesan fundamentalnya tetap relevan: kemakmuran yang berkelanjutan harus memiliki fondasi pada kemampuan menghasilkan barang, jasa, dan nilai tambah.
Selama beberapa dekade, konsumsi rumah tangga menjadi jangkar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peran tersebut tetap penting karena menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi. Namun, dalam jangka panjang, konsumsi tidak mungkin terus berkembang tanpa peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Sebuah bangsa tidak mungkin selamanya memperbesar kemakmuran hanya dengan memperbesar apa yang dibelanjakannya. Pada suatu titik, ia harus memperbesar apa yang mampu diciptakannya.
Karena itu, pertumbuhan investasi yang melampaui PDB menjadi perkembangan yang patut diperhatikan. Bukan karena Indonesia telah sepenuhnya mengalami perubahan struktural, melainkan karena arah menuju penguatan sisi penawaran mulai memperoleh pijakan empiris.
Indikasi tersebut juga tercermin dalam realisasi investasi. Sepanjang 2025, investasi mencapai Rp1.931 triliun. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi kembali mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Hampir 30 persen dari investasi tersebut, atau sekitar Rp300,1 triliun, berasal dari sektor hilirisasi.
Namun, investasi hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang lebih panjang.
Dalam teori pertumbuhan neoklasik, Robert Solow mengingatkan bahwa akumulasi modal pada akhirnya menghadapi diminishing returns. Semakin banyak modal ditambahkan, semakin kecil tambahan output yang dihasilkan apabila teknologi dan produktivitas tidak mengalami perubahan.
Perekonomian pada akhirnya akan mendekati kondisi steady state, ketika penambahan modal tidak lagi cukup untuk mempertahankan pertumbuhan output per pekerja.
Inilah tantangan fundamental Indonesia. Kita tidak cukup hanya membangun lebih banyak pabrik, jalan, atau kawasan industri. Kita harus memastikan bahwa investasi tersebut juga membawa peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, dan kemampuan inovasi.
Dalam kerangka Solow, kemajuan teknologi memungkinkan perekonomian bergerak menuju lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi, melampaui keterbatasan steady state sebelumnya. Dengan kata lain, kemajuan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak modal yang dikumpulkan, tetapi juga oleh seberapa produktif modal tersebut digunakan.
Di sinilah industrialisasi memiliki makna yang lebih mendalam.
Joseph Schumpeter mengingatkan bahwa inovasi merupakan penggerak utama dinamika kapitalisme. Sementara Albert Hirschman menekankan pentingnya backward and forward linkages, ketika satu kegiatan industri menciptakan permintaan bagi industri pemasok sekaligus membuka kesempatan bagi industri lanjutan.
Ekspor perdana baterai dari IWIP perlu ditempatkan dalam konteks tersebut. Terlebih, pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo meluncurkan sebelas proyek hilirisasi dengan nilai investasi sekitar Rp180 triliun, mencakup material baterai, sel baterai, aluminium, hingga kendaraan dan peralatan berbasis listrik.
Peristiwa ini memperlihatkan upaya membangun ekosistem industri, bukan sekadar fasilitas pengolahan mineral.
Tentu, satu pengiriman ekspor belum berarti seluruh teknologi telah dikuasai secara domestik. Keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan oleh kedalaman rantai pasok nasional, transfer teknologi, kandungan lokal, kemampuan inovasi, dan keterlibatan tenaga kerja Indonesia dalam pekerjaan bernilai tambah tinggi.
Namun, industrialisasi memang merupakan sebuah perjalanan panjang. Ia dimulai ketika suatu bangsa berani membangun kemampuan yang sebelumnya belum dimilikinya.
Jeffrey Sachs, melalui The End of Poverty, mengingatkan pentingnya sebuah big push: dorongan investasi besar yang terkoordinasi untuk membebaskan perekonomian dari keterbatasan struktural yang selama ini menghambat pembangunan.
Dalam perspektif ini, infrastruktur, industrialisasi, investasi produktif, ketahanan energi, dan pembangunan manusia tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Semuanya membutuhkan orkestrasi yang memungkinkan satu investasi memperkuat investasi lainnya.
Namun, terdapat dimensi yang lebih mendalam daripada sekadar koordinasi kebijakan. Indonesia sesungguhnya sedang dihadapkan pada kebutuhan untuk bergerak dari reformasi menuju transformasi bangsa.
Reformasi memperbaiki cara sebuah sistem bekerja, sementara transformasi mengubah kemampuan dan struktur sistem itu sendiri. Reformasi dapat membuat mesin ekonomi menjadi lebih efisien, tetapi transformasi memungkinkan sebuah bangsa membangun mesin pertumbuhan yang berbeda.
Yang pertama memperbaiki keadaan. Yang kedua berupaya mengubah kemungkinan.
Dalam konteks inilah orientasi pembangunan Presiden Prabowo dapat dibaca sebagai proyek transformasi bangsa atau national transformation. Bukan sekadar memperbaiki struktur ekonomi yang sudah ada, melainkan berupaya membangun fondasi produktif yang baru.
Dari ketergantungan terhadap komoditas menuju industrialisasi bernilai tambah. Dari dominasi konsumsi menuju penguatan produksi. Dari keunggulan yang diwariskan alam menuju keunggulan yang diciptakan melalui teknologi, inovasi, dan kualitas manusia.
Transformasi bangsa tidak dapat dihasilkan oleh kebijakan yang bekerja secara terpisah. Hilirisasi membutuhkan energi dan infrastruktur. Industri membutuhkan investasi dan kepastian pasar. Teknologi membutuhkan penelitian dan inovasi. Sementara semuanya membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, big push dalam konteks Indonesia bukan sekadar tentang memperbesar investasi, melainkan tentang mengorkestrasi seluruh sumber daya bangsa untuk menciptakan kapasitas ekonomi yang sebelumnya belum dimiliki.
Negara tidak hanya memperbaiki kegagalan pasar, tetapi juga membantu membangun ekosistem produktif yang memungkinkan pasar berkembang lebih jauh.
Namun, transformasi bangsa tidak boleh berhenti pada transformasi ekonomi semata.
Sejarah pembangunan telah berkali-kali memperlihatkan sebuah ironi. Sebuah negara dapat menjadi semakin kaya tanpa membuat seluruh rakyatnya memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Pabrik dapat tumbuh menjulang, investasi dapat mencapai rekor, tetapi sebagian masyarakat tetap berdiri di bawah bayang-bayang kemajuan yang tidak pernah sepenuhnya mereka nikmati.
Inilah paradoks pertumbuhan yang hendak dihindari Presiden Prabowo: ketika ekonominya terus bergerak maju, tetapi manusianya justru berjalan di tempat.
Dalam konteks tersebut, Asta Cita ketiga, keempat, dan kelima sesungguhnya dapat dibaca sebagai satu kesatuan strategi ekonomi pembangunan.
Asta Cita kelima menempatkan hilirisasi dan industrialisasi sebagai instrumen penciptaan nilai tambah dan peningkatan kapasitas produksi. Asta Cita keempat memperkuat sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, sains, dan teknologi. Sementara Asta Cita ketiga memastikan bahwa transformasi tersebut diterjemahkan menjadi penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Asta Cita kelima membangun industrinya. Asta Cita keempat mempersiapkan manusianya. Dan Asta Cita ketiga memastikan bahwa keduanya bertemu dalam pekerjaan yang produktif dan bermartabat.
Ketiganya bukan agenda yang terpisah, melainkan satu rangkaian transformasi yang saling membutuhkan.
Tanpa industrialisasi, peningkatan pendidikan berisiko melahirkan tenaga kerja terampil yang tidak menemukan kesempatan. Sebaliknya, industrialisasi tanpa pembangunan manusia hanya akan menciptakan pabrik modern yang manfaatnya tidak sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat domestik.
Di sinilah pemikiran Amartya Sen dalam Development as Freedom menemukan relevansinya. Bagi Sen, pembangunan tidak dapat direduksi menjadi pertumbuhan pendapatan semata. Pembangunan pada hakikatnya merupakan perluasan kapabilitas manusia untuk menentukan dan menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga.
Dari perspektif tersebut, Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, pendidikan vokasi, dan penguatan pelayanan kesehatan harus dipahami sebagai investasi produktivitas jangka panjang.
Anak yang memperoleh gizi lebih baik memiliki kesempatan belajar yang lebih baik. Pendidikan yang berkualitas memperbesar kapasitas manusia untuk menguasai teknologi. Kemampuan tersebut meningkatkan produktivitas, sementara produktivitas membuka jalan bagi pendapatan yang lebih tinggi.
Pada titik inilah Say, Solow, Sachs, dan Sen sesungguhnya bertemu dalam satu kerangka pembangunan yang utuh.
Say menjelaskan pentingnya penciptaan produksi sebagai sumber pendapatan. Solow mengingatkan bahwa produktivitas dan kemajuan teknologi menentukan keberlanjutan pertumbuhan. Sachs menekankan perlunya dorongan investasi besar yang terkoordinasi. Sementara Sen memastikan bahwa seluruh proses tersebut pada akhirnya harus memperluas kemampuan dan kebebasan manusia.
Transformasi ekonomi dan transformasi manusia dengan demikian menjadi dua sisi dari perjalanan yang sama.
Sejumlah indikator sosial mulai menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, sementara tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,65 persen pada Mei 2026. Namun, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan bahwa penurunan pengangguran juga disertai peningkatan kualitas pekerjaan, produktivitas, dan upah riil.
Sebab, ukuran keberhasilan industrialisasi bukan hanya seberapa banyak pabrik dibangun, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berubah karenanya.
Tentu, dua tahun belum cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural yang terbentuk selama puluhan tahun. Tekanan eksternal masih nyata. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, ekspor tumbuh 4,74 persen, sementara impor meningkat lebih cepat sebesar 19,84 persen. Kondisi ini mengingatkan bahwa perluasan kapasitas produksi masih harus diikuti dengan penguatan industri pendukung domestik dan peningkatan daya saing ekspor.
Transformasi juga membutuhkan tata kelola yang kredibel, kepastian regulasi, keberlanjutan lingkungan, serta kemampuan menjaga stabilitas makroekonomi. Tanpa semua itu, investasi besar berisiko menghasilkan pertumbuhan yang tinggi secara sesaat, tetapi tidak cukup dalam untuk mengubah struktur perekonomian.
Karena itu, dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo sebaiknya dibaca bukan sebagai akhir dari sebuah pencapaian, melainkan sebagai fase awal dari perjalanan transformasi bangsa.
Pertumbuhan PMTB yang melampaui PDB memberikan indikasi menguatnya investasi sebagai sumber pertumbuhan. Ekspor baterai dari Halmahera menunjukkan terbukanya ruang baru bagi industrialisasi. Sementara keterkaitan antara pembangunan industri, sumber daya manusia, dan lapangan kerja berkualitas memberikan kerangka bagi pertumbuhan yang lebih inklusif.
Namun, keberhasilan akhir transformasi ini tidak akan ditentukan oleh seberapa megah proyek yang diresmikan, melainkan oleh seberapa besar kemampuan produktif yang benar-benar diwariskan kepada bangsa.
Pada akhirnya, pembangunan bukanlah sekadar perlombaan menghasilkan angka pertumbuhan yang semakin tinggi. Ia adalah perjalanan panjang mengubah kekayaan alam menjadi kemampuan manusia, mengubah investasi menjadi kesempatan, dan mengubah pertumbuhan menjadi kesejahteraan.
Mungkin kita belum tiba di tujuan. Jalan yang harus ditempuh masih panjang, dengan segala ketidakpastian dan keterbatasannya. Tetapi ada perbedaan mendasar antara bangsa yang hanya menunggu masa depan dan bangsa yang mulai membangun kemampuan untuk menciptakannya.
Karena kemajuan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari seberapa banyak kekayaan yang berhasil dikeluarkan dari perut buminya, melainkan dari seberapa besar kemampuan yang berhasil ditanamkan ke dalam diri manusianya.
Dan kelak, ketika sejarah menoleh kembali kepada dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo, pertanyaan terpentingnya barangkali bukan berapa persen ekonomi pernah tumbuh, atau berapa triliun investasi berhasil dikumpulkan.
Melainkan, apakah pertumbuhan itu telah membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk berdiri lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.
Sebab, kekayaan alam pada akhirnya akan habis. Modal dapat berpindah. Bahkan teknologi dapat menjadi usang.
Tetapi manusia yang diberi kesempatan untuk berkembang akan terus menemukan cara menciptakan kemakmuran baru.
Dan barangkali, di sanalah makna terdalam transformasi bangsa: bukan sekadar mewariskan Indonesia yang lebih kaya, melainkan menghadirkan generasi yang lebih mampu menentukan masa depannya sendiri.
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang berhasil menikmati kemakmuran hari ini.
Ia adalah bangsa yang mampu menciptakan kemakmuran esok hari, bahkan ketika segala kemudahan yang diwariskan alam tak lagi tersedia. **
