Bos ITSEC Asia (CYBR) Sebut Investasi Keamanan Siber Indonesia Diproyeksi Terus Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - CEO dan President Director PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), Patrick Dannacher memproyeksikan investasi keamanan siber di Indonesia meningkat drastis seiring lonjakan risiko serangan berbasis kecerdasan buatan (AI). Perusahaan menilai pertahanan tradisional tidak lagi memadai menghadapi serangan otomatis.
Patrick mengatakan bahwa penggunaan AI oleh pelaku kejahatan membuat risiko siber meningkat tajam. Kondisi ini mendorong perusahaan mengadopsi teknologi pertahanan yang mengintegrasikan AI dan keamanan siber.
“Jadi, investasinya akan meningkat secara dramatis, serangan (siber) otomatis harus diimbangi dengan sistem pertahanan yang juga bekerja secara otomatis," kata Patrick dalam konferensi pers AICX 2026 di Kantor ITSEC, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Patrick mengatakan, perusahaan tidak bisa menunda investasi karena ancaman terus berkembang. “AI tanpa siber bukanlah solusi, dan bagi kami, siber tanpa AI juga bukan solusi,” katanya.
Meski tidak menyebut besaran proyeksi investasi secara spesifik. Namun emiten keamanan siber itu melihat tingginya tingkat risiko siber yang dihadapi setiap industri, termasuk sektor perbankan, membuat semakin banyak kebutuhan investasi di sektor tersebut.
Baca Juga
ITSEC (CYBR): Jangan Asal Pakai AI, Keamanan Data Bisa Terancam!
Patrick pun berharap forum AICX 2026 tangga 20 Oktober di Bali dapat mempertemukan regulator, pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain. Forum tersebut diharapkan membantu setiap pihak memahami kesiapan masing-masing dalam menghadapi perkembangan AI dan keamanan siber.
Menurut Patrick, pemahaman terhadap arah regulasi diperlukan agar perusahaan dapat menyiapkan diri dan membantu klien memenuhi ketentuan yang berlaku. Diskusi juga diharapkan menghasilkan fokus tindak lanjut yang jelas setelah acara berlangsung.
Di sisi lain, Ketua Tim Akselerasi Startup Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), Anka Raharja mengatakan, AICX dapat menjadi sumber masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan AI. Masukan itu mencakup regulasi, etika AI, serta program pendukung untuk memperluas adopsi teknologi.
"Pemerintah perlu mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sekaligus menekan dampak negatifnya. Karena itu, penyusunan kebijakan perlu melibatkan akademisi, industri, dan pemangku kepentingan lain, bukan hanya pemerintah," tutupnya.
